Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pernikahan. Tampilkan semua postingan

Selamat Memperingati 1057 Hari Pernikahan Mas!

   

Assalammualaikum pembaca budiman, bagamana kabar kalian? Kuharap akan selalu baik-baik saja, jangan lupa bahagia yaa. Masih sering dapat SMS dari Kominfo terkait covid? Kalau aku iya, justru sekarang dilengkapi dengan embel-embel #VaksinHarusLengkap. Jangan kendor untuk selalu menggunakan masker di mana pun dan kapan pun yaa. Jangan lupa juga lengkapi diri dengan booster, karena ke depannya itu yang akan menjadi syarat bepergian menggunakan kendaraan umum. Catet!

Hari ini tanggal 23 Agustus 2022. Selamat hari ulang tahun pernikahan yang ke 1057 hari untuk aku dan mas bojo. Semoga semakin bertambahnya usia pernikahan, semakin dalam pula rasa pengertian, tanggung jawab dan cinta yang terpupuk. We don’t know what’s a head, tapi semoga bisa melewati setiap ujian sama-sama, dan dipertemukan di surgaNya.  Amiin. Kok kayak make a wish gini ceritanya. hehe

Baca JugaSi Penulis Yang Meniqah

Pernikahan di hari 1057, kenapa gak disebut pernikahan ke -3 tahun aja sih (mungkin ada yang penasaran tanya gitu). Jawabannya karena pengetikannya tersirat banyak makna, tidak hanya sekedar angka. 1057 Menunjukkan sudah ribuan hari telah kami lalui menjadi pasangan halal atas izin Allah. Sisa hidupku yang telah kupasrahkan padanya, kupatuhkan rinduku untuk selalu tunduk dan mengikuti sabdanya dan semua itu telah berjalan sekian ribu hari. Meskipun 1057 hari masih bukan apa-apa daripada pasangan di luar sana yang terpenting kami bisa menjadi pasangan yang saling mengerti sejauh ini.

 Kata orang, pernikahan tahun 3 adalah pernikahan yang masih seumur jagung, kecil ya? ya begitulah. Hehe. Semua hari yang terlewat begitu mengesankan dan terasa ringan karna di lalui berdua. Semoga selalu ada hari-hari selanjutnya, karna kami tau ini masih sangat awal, masih banyak rintangan yang perlu kami hadapi. Semoga selalu bergandengan tangan dalam melewati setiap ujian yang menghadang.

Walaupun dalam tahun ini kami belum dikarunia momongan, kami tetap bersyukur, Allah telah mencukupkan rezeki kami dengan cara yang lainnya. Beberapa keinginan kami yang sempat terlontar di awal pernikahan terwujud di tahun ini. Semuanya tentu karena Allah Maha Adil. Alhamdulillah. Cinta kami juga masih terus tumbuh subur karena selalu di pupuk setiap hari. Sejujurnya semua pernyataan ini menurutku telalu lebay, haha tapi  yang jelas aku sama mas bojo selalu menyakini, pasti suatu saat nanti Allah akan mengabulkan doa-doa yang kami di waktu yang tepat perihal momongan. Sementara ini kami nikmati waktu berdua dulu. Kemana-mana berdua, Positif thinking dengan aktivitas yang dikerjakan, travelling berdua. Intinya tidak membuat itu sebuah beban yang harus diratapi.

Fase penuh drama

Menjadi pasangan suami istri yang hampir 24 jam bertemu dengan orang yang sama tentu banyak sekali godaannya. Awal-awal menikah, jauh sekali dari kata adem ayem. Kebiasaan masing-masing kadang membuat otak mendidih dan bibir komat-kamit karena adanya perbedaan sudut pandang keseharian sebelum menikah. Ataupun perkara sepele seperti tugas yang sudah diberikan tak segera dikerjakan. Aku pikir, ketika aku memutuskan menikah dengan mas bojo, tidak akan ada perbedaan yang berarti tentang dia. Tapi nyatanya aku SALAH. Setelah menikah dan bersama dia 24 jam full dan berulang ke esokkan harinya, aku tau suamiku ini seperti apa orangnya. Bukan kayak power ranger ataupun manusia macam spiderman ataupun Iron Man yang punya kekuatan khusus. Bukan ya..

Mungkin karena masih di fase awal menikah, kami harus menyesuaikan diri satu sama lain. Hal-hal remeh yang menurutku tidak seusai ataupun sebaliknya menjadi sebab pertikaian kami. Padahal sebelum menikah, kami minim cekcok. Eh minim ya, bukan berarti tidak ada sama sekali. Konflik dalam hubungan tentu ada, itu pun tak lama karena dia lebih banyak mengalah dan meminta maaf.

Namun setelah menikah, dia lebih otoriter karena merasa menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab atas semua penghuni rumah. Sedangkan aku, wanita berjiwa mandiri dan keras kepala pula yang tidak suka terlalu di kekang. Dalam hati “kenapa dia begini” Drama rumah tangga pun mewarnai hari-hari kami. Sempat ada pikiran menyesal kenapa harus mengiyakan ajakannya menikah tapi itu dulu, namanya juga masih jiwa muda. Haha. So drama yaa, tapi kalau di pikir-pikir lagi, menikah dengannya juga suatu keberuntungan yang diamini banyak orang.

Beruntungnya, mas bojo tak pernah bentak aku, menurutku ya ini. Even he get angry already dia gak pernah berkata kasar kepadaku sekali pun bahkan sampai detik ini. Alhamdulillah. Tapi anehnya, ketika kami sedang pillow talk baru-baru ini, dia mengatakan pernah sekali dan itu ketika kami masih tinggal di kos-kosan, dia sempat menyesal melakukannya. Tapi menurutku tidak pernah, karena nada bicaranya tak pernah tinggi seperti orang marah ataupun teriak pada umumnya.

Lah dia marahnya gimana? Marahnya dia itu kelihatan kok dari caranya bicara sudah nyelekit tuh kalo lagi marah ngomong, cara dia menatap dan berperilaku. Wajar dong ya, manusia biasa masih ada emosi, masa iya dia gak pernah marah. Hehe.

Lalu bagaimana kami berdamai dengan keadaan? Aku dan mas bojo sebisa mungkin menyelesaikan setiap permasalahan selalu berdua. Seperti yang aku info tadi, aku tipikal wanita keras kepala. Aku lebih sanang mengutarakan yang aku rasakan, setelah lelah ngomel (namanya juga wanita ya, kalau gak ngomel kayak gak lega gitu). Aku memilih diam sejenak dan tidak mengajaknya bicara terlebih dahulu Gengsiku masih gueede banget. Hehe. Jadi dia yang mengalah dan mengajakku untuk membahas duduk perkaranya dengan kepala dingin. Kami kembali belajar karakter masing-masing, mungkin sampai saat ini juga masih belajar.

Setelah clear dan saling meminta maaf, kami kembali menjadi pasangan serasi. Aneh? Pasti. Aku tak tau kenapa bisa seperti itu, beberapa saat yang lalu marah-marah, tapi seketika berubah melunak saat dia melakukan hal konyol yang membuatku tertawa terpingkal. Begitulah cara kami memperbaiki dan mempertahankan rumah tangga.

Dia bukan orang romantis

Manusia tidak ada yang sempurna begitupun kami. Sejujurnya aku tidak mempersiapkan apa-apa di hari ini. Rutinitasku normal seperti ibu rumah tangga kebanyakan. Bangun pagi, memasak, membersihkan rumah, kerja secara online, istirahat, menyiapkan malam malam, kemudian nantinya ketika mas bojo pulang kerja yang aku lakukan ya chit chat dengannya. Iya seperti itu. Nothing special. Sejauh artikel ini terbit sih rencananya begitu. 

Aku berani bertaruh mas bojo tidak akan ingat tentang hari ini. Tanggal dan tahun berapa kami menikah saja dia sering keliru (emang gitu ya laki-laki? Atau cuma bojoku.). Dia hanya ingat tanggal kami lamaran, aneh ya? tapi tak apa setidaknya ada yang dia ingat tentang moment bahagia kami.

Setahun pertama tentunya kesal, kenapa tidak ada surprise dari dia. Makan diluar mungkin. Mengharap ya. Haha kebanyakan kena drama queen aku ini. Setidaknya ada tindakan yang mewakili hari pernikahan kami. Paling gampangnya nih, semisal seluruh pekerjaan rumah dia yang handle. Walaupun di hari biasanya ya dia tetap membantu mengurus pekerjaan rumah. Tapi khusus hari ini, aku minta yang lebih. Hehe. Sayangnya Mas bojo benar-benar lupa dengan hari kami mengikat janji suci di 1057 hari yang lalu. Aku harus memancingnya dulu, baru dia bilang “oh iya ya?” hanya itu.

Di tahun kedua, mengingat kejadian di tahun pertama di luar ekspetasi. Aku semakin paham karakter yang dimiliki suamiku: ternyata mas bojo memang begitu orangnya, pelupa dan bukan orang yang romantis. Bahkan keluarganya sering berpesan untuk mengingatkan mas bojo terkait-hal yang menurutku itu sangat simpel. Hhehe. So, tidak mungkin ada karangan bunga mawar, coklat, tart apalagi ucapan selamat. Lalu sekarang di perayaan hari 1057? Bisa di tebak meskipun hari ini bersejarah, akan terasa seperti hari-hari biasanya. Emang hari biasanya gimana? Penuh cinta, penuh garam, penuh gula, penuh madu, penuh doa dan penuh perjuangan. Aku sudah tidak ambil pusing, memang mas bojo orang seperti itu.

Baca Juga: Topik Yang Harus Selesai Sebelum Menikah


Aku tak lagi kesal meski tanpa perayaan seperti kebanyak pasangan lainnya. Pasalnya, mas bojo tetap menomersatukan aku dengan caranya. Menurutku begitu. Apa pun yang aku butuhkan sebisa mungkin dia penuhi even its takes time. Itu yang membuat aku mengakui walaupun dia bukan orang romantis, dia tetap berusaha sebaik mungkin untuk membahagiakanku

Sampai saat ini konfilik kecil akan selalu ada, meskipun begitu kami menggangap itu sebagai pemanis dalam rumah tangga. Selama kami masih bisa saling menjaga, saling berusaha dan mengamini niatan kami menikah, insya allah perjalanan rumah tangga kami akan selalu indah. Yang terpenting, kami terus belajar dan belajar, karena menikah adalah ibadah seumur hidup yang tak pernah lekang oleh waktu. 

Sekali lagi, selamat ulang tahun pernikahan mas bojo… 

Topik Yang Harus Selesai Sebelum Menikah

Topik Yang Harus Selesai Sebelum Menikah

(sumber: pinterest.com)

Assalamu'alaikum pembaca budiman. Hari ini cuaca terasa panas ya? jangan sampe hati juga ikutan panas. Mari ngadem, berhenti di pos es kelapa muda pinggir jalan, nikmati dengan angin sepoi-sepoi, sambil ngrobrolin soal menikah yuk.

Menikah itu enak gak sih?, mungkin ada yang tanya? Enak but it hard like a roller coaster.  Haha Aku juga pernah membahas sekilas di beberapa tulisan sebelumnya. entah kalian  perhatikan  apa enggak. marriage is not easy like people think.

Aku menikah di usia yang dapat dikatakan gak muda-muda amat. 28 itu tua enggak sih? Masih muda ya? belum terlalu tua juga kan. Hehe. Keputusan menikah juga sudah  benar- benar matang dipikirkan. Sampai akhirnya i think that he is the one i needed

Sebelum ke arah menikah, aku harus melihat bibit, bobot, bebet calonku. Kok sampe segitunya, peritungan, banyak kriteria? Gak gitu ya Marni. Haha. Memiliki Kriteria untuk calon pasangan kita nantinya itu perlu.

Menikah is a serious thing, jadi harus cari yang benar-benar bisa membimbing, mengayomi, mendidik dan memberikan contoh yang baik. Menikah adalah ibadah seumur hidup, jadi bukan main-main. Wajib hukumnya kita punya Kriteria untuk calon pendamping  for the rest of our life . Pastinya dibarengi dengan kita  meng upgrade diri yaa. Gak asal pengen nikah, tapi diri gitu-gitu aja sedangkan kriteria terlalu tinggi untuk di terima nalar. Hehe

Baca jugaKapan Kamu Menikah?

Dulu, ketika duduk di bangku sekolah menengah atas,  aku memiliki impian menikah di usia tidak lebih dari 25 tahun. Kalau menurut perhitunganku. Lulus sekolah 2010 melanjutkan kuliah dan akan lulus di tahun 2014, kemudian kerja 2 tahun dan menikah. Itu targetku jika mengikuti alur yang aku ciptakan. Tapi takdir Allah berkata lain, aku harus  post pone keinginan kuliah selama 2 tahun setelah tidak menerima SNMPTN di tahun pertama dan karena kontrak kerja. Aku Kembali mendaftar kuliah di tahun 2012 dan lulus di tahun 2016.

Entah kenapa, setelah lulus kuliah aku mengurungkan niat untuk menikah. Padahal usia saat aku lulus itu 26 tahun. Selain belum menemukan jodoh, rencananya aku ingin fokus membangun karir dan dapat pergi kemanapun tanpa pamit yang rumit kecuali izin orang tua. Gitu! Emang kalau punya pacar harus pamit kemana-mana? Menurutku sih iya. Gitu gak sih kalian? Hehe

Lalu, di akhir Juni tahun 2018, aku berkenalan dengan seseorang bernama Dipasuta. Hasil dari perjodohan temen sekantor. Selama bertemu akhirnya kami membahas banyak hal, sampai di tahun 2019 kami memutuskan menikah. Cepat ya? kayak kejar tayang nih kayaknya. Hehe. Sejujurnya aku sangat-sangat  insecure and not comfortable untuk berkenalan dengan cara perjodohan. aku takut. Takutnya, dia akan kecewa denganku, terutama kelakuanku yang sangat barbar (tidak menunjukkan wanita anggun. Hehe, mungkin kalau dia kenal sejak dulu dia akan ilfeel). Aku cukup rendah diri untuk mengakui jika aku pantas untuk siapapun. Serious im not into it makanya aku jomblo cukup lama. Haha

Entah kenapa dengan seorang Dipasuta ini, segalanya seperti dimudahkan semesta. Semuanya serba mendukung termasuk keluarga kami berdua tanpa ada kendala sedikit pun. Nah, dalam jangka waktu satu tahun dari kenal sampai dengan menikah. Mas Dipa menunjukkan keseriusannya, bahkan semua perkenalan antar orang tua, lamaran, balas omongan, itu semua di awal oleh idenya. Aku sungguh-sungguh santai, tidak nggoyo dengan pikiran harus menikah dengan cepat. Bukan berarti aku tidak serius dengannya. Aku nyaman, bahkan apa yang aku harapkan menjadi pasangan ya ada di dia. As a couple he treats me well, like a queen, but  if we talk about marriage, i've to think twice. Kalaupun aku akan menikah, dia harus tau seluk beluk keluargaku bagaimana. Sedangkan aku masih maju mundur untuk menjelaskan latar belakangku seperti apa. 

Setelah menjelaskannya pun, aku sempat mempersilahkan dia untuk menemukan seseorang yang lebih dariku. Yang mungkin tidak mempersulit hidupnya kelak. Aku akan legowo melepaskan tanpa kecewa sedikit pun. Drama ya? but thats consequence. Aku tak mau lelah di kemudian hari ataupun ada perdebatan setelah kami berada di titik paling serius, kami tak ingin berselisih tentang hal yang harusnya bisa diselesaikan di awal. Dia tidak berniat mundur, justru memberikan afirmasi yang baik. i.m touched. 

Pembahasan pun berlanjut, meskipun seagama ada beberapa nilai yang harus kami clear kan di awal. Tentang bagaimana keyakinan begitupun denganku. Menyepakati tentang keyakinan masing-masing selesai, selanjutnya tentang  do and dont's terkait dengan rumah tangga kelak. Alasan saya melakukan diskusi itu, sejujurnya didukung dengan banyak stereotip yang lekat di masyarakat. Setelah menjadi ibu rumah tangga ruang lingkup akan terbatas hanya akan berkutat dengan dapur, anak dan ranjang. Sedangkan menurutku, menjadi istri tidak harus dibatasi aktivitasnya, istri tetap bisa memiliki  me time , karir dan segala pekerjaan rumah bisa di handle berdua. Takutnya dia tidak sepemahaman denganku terkait kehidupan pernikahan. Mungkin diskusi ini juga yang bisa kalian gunakan ketika kalian akan memutuskan untuk menikah.

Pekerjaan

i m not quit my job itu yang aku ungkapkan pertama kali saat mas bojo membahas bagaimana kehidupan pernikahan kami kelak. Aku tidak akan berhenti bekerja hanya karena aku menikah. Aku akan berhenti, jika ada masanya dia merasa mampu memenuhi kebutuhanku secara lahir dan batin. Dia sedikit terkejut, karena menurutnya apabila ingin berpenghasilan, seorang wanita itu tidak harus bekerja, dari rumah pun bisa bekerja dengan berwirausaha.

Aku menolak. Aku masih belum siap berwirausaha. Pasti butuh biaya dan persiapan matang untuk tidak merasa mental breakdown  saat dagangan tidak laku. posisinya saat itu aku nyaman dengan pekerjaan yang sedang aku geluti. Sekali lagi aku tidak mau harus mengorbankan pekerjaan ketika aku harus bergelar istri. Menurutku itu tidak adil. Mengapa pria setelah menikah bisa tetap bekerja dan menjadi kepala rumah tangga, sedangkan ketika wanita menjadi istri, dia harus tinggal di rumah mengurus segala keperluan anggota rumah. Seolah menjadi istri tidak memiliki peluang untuk sukses meniti karir. Menjadi istri tidak serta merta harus melepaskan keinginannya untuk tetap berdikari  and he accepted!, so  aku tetap melanjutkan bekerja.

keuangan

Uang suami uang istri, uang istri tetap menjadi istri.

Pasti sering kan mendengar ungkapan seperti itu? awalnya emang seru ketika belum menemukan pasangan. Bisa berucap ngawur dan mengiyakan pernyataan itu, tapi ketika mendekati masa-masa akan berumah tangga, maindset pun aku ubah, aku tidak bercita-cita mengakuisi ekonomi bojo. Aku hanya mengingatkan mengenai kewajibannya apa saja terkait masalah nafkah  which is dia pasti lebih paham.

Visi misi dalam mengatur keuangan harus mencapai mufakat sebelum kami menikah. i'm realistic  sedikit banyak kasus perceraian yang terjadi atau pemicu keretakan rumah tangga dimulai dari ekonomi yang tidak transparan. Kami mengetahui tentang penghasilan kami sebelum menikah untuk apa saja sejauh ini, apakah memiliki tanggungan atau hutang dan sebagainya. seberapa sering membeli barang-barang, dan melakukan aktivitas liburan. make it clear

Saya enggak pernah memaksa mas bojo harus memberikan nominal tertentu penghasilannya. Yang penting dilaksanakan dan sesuai dengan kebutuhan kami. Nah mas bojo mempercayakan untuk aku yang mengatur keuangan rumah. Oke setuju.

Pekerjaan Rumah

Seperti yang aku katakan di awal, aku takut jika menjadi istri lingkup seorang wanita akan terbatas, hanya berkelutan dengan dapur, anak dan ranjang. pernah berkunjung dan ikut mengamati keluarga mas bojo yang mendukung pertanyataan tersebut, jadi tambah panik. Aku takut mas bojo menganimi hal tersebut. Meskipun pada kenyataanya, keluarga mas bojo sangat tidak merasa keberatan dengan pembagian pekerjaan rumah di tangan istri dan urusan nafkah adalah suami. 

Menurutku pribadi, Jika semua tugas di menangani istri dengan pemahaman jika istri adalah sosok wanita yang notabene selalu menggunakan perasaan dalam segala hal, ya suami juga bisa menggunakan logika untuk memahami bagaimana pekerjaan itu diselesaikan. Jika suami mengatakan tidak bisa atau tidak sabar (tidak sabar), ya harusnya kesabaran itu menuntut. 

Jika istri yang harus mengurus semua pekerjaan rumah  like a slave, right?  i dont want it

Menikah bukan untuk menambah beban seorang wanita. Benar-benar Ya ! Sedangkan di masa kecilku. Ibu dan bapakku bekerja sama mengurus rumah. Mereka selalu bergantian meskipun sama-sama bekerja. Menurutku kehidupan rumah tangga seperti itu adalah impian.

Oleh sebab itu, aku mengutarakannya, walaupun aku menjadi istri pekerjaan rumah harus dibagi. Paling tidak, ketika kita sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tidak akan diperparah ketika tiba di rumah. Saling memahami dan bertanggung jawab pada rumah yang kami tempati.

Tempat tinggal

Setelah menikah aku tidak ingin  tinggal dengan mertua ataupun dengan orang tuaku. Menurutku itu demi kebaikan dan untuk menjaga hubungan silaturahami tetap baik. Kalaupun masih belum ada rumah, kami bisa kos ataupun ngontrak untuk sementara waktu. 

Alhamdulillah mas bojo setuju. Kami ingin mandiri mengatur rumah tangga yang akan dibangun nantinya. Jauh dari orang tua, tidak membuat kami khawatir karena sesekali kami akan bergantian berkunjung. Setidaknya sampai sini perspektif tentang tempat tinggal setelah menikah menemukan kejelasan.

Sex life

Terakhir, obrolan dengan mas bojo agak tabu, padahal kami belum menikah. Hehe. Karena ilmu kami hanya berdasarkan katanya dan artikel yang tersebar di mbah google, kami mulai menyamakan pendapat terkait sex life after married ini. Mula-mula ragu membahasnya. Menurut kalian sopan gak sih tanya “kamu masih perawan/ perjaka?” ke calon pasangan. Hehe. For me itu penting banget. Penekananya ini sekali lagi menurutku, nilai yang aku pegang teguh.

Aku sangat menjaga keperawanan sampai pada masanya aku menikah, beruntungnya itu juga yang mas bojo pegang. Sejujurnya kami sama-sama awam soal sex life but we try not to ignored kalau itu bahasan penting untuk rumah tangga kami nantinya.

Sekarang setelah kami menikah, semua diskusi diatas terlaksana dengan baik. Aku dan mas bojo menikmati moment tinggal berdua. Adapun perdebatan, hanya kami berdua yang tahu dan yang dapat menyelesaikannya tanpa campur tangan orang tua ataupun pihak lain. Kami menikmati waktu untuk tumbuh dan saling menyayangi satu sama lain.

baca juga: Q&A setelah Menikah

Semoga kita memiliki rumah tangga yang sesuai syariat Islam Sakinah, Mawaddah, Warahmah, entah apapun masalah yang akan datang dapat diselesaikan dengan baik, dan dijadikan sebagai pelajaran untuk kami terus berpikir ke depan. Nah,  menikahlah apabila kalian pembaca merasa mampu, jangan lupa list dulu apa yang harus dibahas berdua sebelum tangan si pria berjabat tangan dengan pak penghulu. Karena setelah kata "sah" dan tiba-tiba menjadi pandangan tentang pernikahan, itu akan memicu koflik yang tiada habisnya. Semoga tidak yaa..

Q&A Setelah Menikah


Holaa.. Assalammualaikum apa kabar pembaca budiman? Sehat selalu ya, jangan lupa physical distancing masih berlaku dan selalu pake masker kalau kemana-mana sama sering-sering cuci tangan ya. Anyway.. Akhirnya ada artikel baru yang aku publish. Gak tanggung-tanggung eh gak tau deng ini tanggung atau enggak. Kali ini tema yang diangkat tentang pernikahan. Lebih tepatnya apa aja yang udah dilalui jelang 1 tahun pernikahan. I know this is too early but I hope this relationship keep going until jannah (amiiin).

Beberapa temen yang menjelang nikah atau yang OTW ke jenjang pernikahan juga pada tanya Gimana rasanya menikah dan apa suka dukanya? Hampir setahun kok belum ada momongan, nunda? (Ini nih cikal bakal mom shamming) Dan masih banyak lagi. Baiqlaah  terlalu panjang ya Allah intronya Better, aku buat Q&A aja ya disini, dan tentu aku ambil topic yang paling sering ditanya dari temen-temen offline tentang pernikahan dan tentang suami. Eitss for disclaimer ini enggak ngegibah atau buka aib keluargaku ya still stay safe.  Tenang masih dalam ranah Gimana aku ngedepin orang baru dalam hidup aku hampir 24 jam yang karakternya beda banget sama diri ini. Finally answer semoga kalian baca sampai bawah ya. Dibaca menjelang tidur , atau ketika nganggur. Huhuh awas ke enakkan.

Q : Gimana rasanya menikah? – Paling sering dapat pertanyaan kek gini dari tetangga, temen, sodara atau netizen sekitar.

A : Gimana ya, Aku gak akan jawab B aja karena emang gak B aja. Lebih ke general ya jawabnya. Ada banyak yang dirasain setelah menikah. Tentu ada masa-masa sedihnya, kayak roller coster gitulah. Tapi sejauh ini kebanyakan rasa bahagianya, semoga selamanya ya. (AMINNNIN DONG). Bahagia udah jadi satu sama orang yang di pilihin Allah yang ternyata juga pilihanku. Gak ada paksaan, gak hasil ngerampok gak nikung punya orang. Heheh. Menikah itu menyenangkan bisa share apapun ke pasangan. Saling topang, saling pandang berpahala pula.

Q : Dipasuta kan pendiem, terus krik krik gak kalau di rumah ?

A : Bagi yang baru kenal mas Dipa dan Aku. Pasti langsung menyimpulkan karakter kita ini beda jauh. Kebanyakan terheran-heran atau langsung buat asumsi pasti aku yang ngedeketin dia. Padahal enggak. Mas Dipa waktu itu gencar banget ngedeketin, klo buat bahan obrolan ada aja. Bahkan yang sering banyak omong dia, even aku juga cerewet sih. Kalau di rumah, Dia kadang ngomong yang aku gak paham karena dia itu bahasanya kadang kek formal banget. Tapi emang sih aku yang banyakan ngomongnya, intinya dia gak krik-krik seperti yang kalian bayangkan.

Q : Siapa yang paling pecemburu diantara kalian ?

: Mas Dipa. Tapi dia selalu beralibi kalau cemburu tanda cinta. OKE ACCEPTED!. But its doesn’t meaning kalau aku gak pernah cemburu sama sekali ya. Ada yang perlu aku cemburui ada yang menurutku gak perlu. Karena dasarnya aku ini bukan tipikal orang pencemburu. Aku lebih percaya aja sama pasangan, sekiranya ada alasan soal kerjaan misal, ya aku oke-oke aja. Sedangkan  Dipasuta itu orangnya pencemburu. Dia kadang ngasih batasan seperti jangan keluar sama temen cowok meskipun itu ada ceweknya.  Alasan tepatnya sih dia berusaha ngejaga aku SUPAYA gak ada fitnah tentang aku diluaran sana. Dia itu sebenarnya ngizinin aku keluar sama temen-temen tapi kalau bisa jangan ada temen cowok kalau gak lagi sama dia/ dia ikut. Meskipun itu temen yang dia kenal KARENA menurut dia, memang iya kalau itu temenku dia kenal, tapi kan orang lain gak tau itu siapa, takutnya ada omongan “kok dian jalan sama cowok sih, suaminya kemana” nah hal itu yang coba mas Dipa hindari. Karena alasan dia cemburu itu make sense so far aku terima. Kadang sadar diri juga sih, karena udah merried jadi selain harus jaga nama baikku aku juga jaga nama baik suami. Jadi sebisa mungkin gak neko-neko.

Q : Pertengkaran hebat sejauh ini ada gak, klo ada itu biasanya tentang apa?

 A : Definisi pertengkaran hebat… emm, sehebat apa ya? Hehe. Kalau bertengkar itu pasti ada, namanya juga 2 kepala dalam 1 rumah. Beda latar belakang, beda pendidikan, beda asuhan jadi pola pikirnya juga beda. Sebenarnya kita itu sering banget tengkar (gak tiap hari juga kok), tapi mas Dipa selalu bilang kalau itu bukan pertengkaran tapi beda pendapat aja. Dari hal yang remeh temeh tapi nanti baikkan lagi. Jadi alhamdulillah sejauh ini pertengkaran hebat itu gak ada dan jangan sampek deh. Kalau pun ada sebisa mungkin difselesaikan dengan kepala dingin. Kita masing-masing punya cara buat calm down sendiri. kalau aku pribadi, setiap aku gak enak hati atau lagi marah, aku selalu minta dia buat ngebiarin aku sendiri, buat nenanging diri, karena kalau dirayu bla-bla aku bakalan tambah marah (hahaha, aneh ya di baikkin malah marah). Tapi emang I need time to healing my  felling. Paling cuma 2-3 jam lah, abis itu baik lagi dengan sendirinya. Lebih seringnya sih kalau lagi tengkar Mas Dipa yang minta maaf, meskipun kadang yang buat salah itu aku. Hehehe

Q : Sifat Dipasuta yang baru kamu tau pas nikah itu apa?

A : Sifat mas yang baru aku tau setelah nikah itu, hmm (pura-pura mikir keras) ..oh ya , dia itu tipikal orangnya kalau minta hari ini ya kalau bisa hari ini. Iya dia gitu. Tapi sebenernya gak ada sifat yang aku tau sejak nikah sih, karena dia kek gitu emang dari sebelum nikah. Hehehe. Gak ada pencitraan-pencintraan yang dia tunjukan sebelum nikah, karena ya dia kek gitu sejak dulu. Lagi, kalau dia gak mood wooo parah, ngebaikinnya itu butuh efford tapi kalau udah ya uda. I think he doesn’t like me at all. Itu yang kadang buat aku  “ih orang ini nyebelin tapi nggemesin”.

Q :Pernah ribet perkara uang gk? Terus gimana menyelesaikannya?

: Pernah, Hahaha ibaratnya harta gono gini yang didapat dari keringat berdua. Tapi itu gak lama kok. Namanya juga menyesuaikan 2 pendapatan buat pengeluran di rumah. Kek pengeluaran ini gajinya mas dipa yang dipakai, cicilan ini dibayar gajiku dan lainnya  karena tumpang tindah tugasnya jadi ada miss. tapi sekarang ini udah gak kok sama-sama ngasih pendapat masing-masing yang pada intinya okelah keknya masalah materi di rumah gak usah dibahas. Dia percaya kalau aku bisa ngatur keuangan rumah. Sebelum nikah pun kita sebenarnya udah discuss masalah materi. Mas Dipa yang nyuruh aku ngehandle itu termasuk gajinya juga. Dia cukup bawa sekedarnya untuk pegangan. Alhamdulillah sejauh ini cash flow aman terkendali karena ter-manage dengan baik.

Q : Gimana sih cara ngetasin bosan?         

: Aku belum merasakan bosan, dan jangan sampai ngerasain bosan. OKE SKIP! Karena menikah itu kalau bisa seumur hidup sekali. Jadi kalau ada tanda-tanda bosen segeralah cari cara untuk bisa ngebuat hubungan itu anget lagi. Entah liburan berdua atau kenapa gitu berdua. Entahlah ,(Kasih advice ya kalau kalian tau gimana caranya)

Q : Kamu nunda punya anak atau lagi pake KB ?

: Pertanyaan ini aku dijadikan penutup ya (fiuhh kek konten penting aja Hehe) takut terlalu panjang ini artikel. Enggak ya netizen budiman. Aku gak pernah nunda punya momongan. Kita kalau bisa pengen cepet, tapi karena belum dapat rezeki dari Allah, yaudah kita nikmati waktu berdua aja sembari nunggu. Bangun chemistry toh kita kenalnya kan juga belum lama,  dari kenal sampai nikah juga Cuma 1 tahun. Kadang sebel juga sih yang ngejudge kek gitu, Tapi yaudahlah. Dinikmati aja.

Si Penulis Yang Menikah

Sedikit flashback di hari akad tepatnya tanggal 23 Agustus 2019 jam 13.00 WIB. Mungkin baru bisa cerita bagaimana proses dan akhirnya sah si penulis jadi istri. Lantaran sejak kapan hari masih sibuk buat buka amplop, pindahan, dan beres-beres kamar untuk dua orang sekaligus dan terakhir back to reality  that I’m a worker. Hari itu, aku bukan datang di kondangan teman sebagai tamu, bukan datang sebagai supporter yang cukup bilang sah, TAPI datang sebagai yang di AKAD. Sebagai mempelai wanita. Jabatan yang kutunggu-tunggu dari tahun ke tahun. Jabatan terbesar dalam sejarah hidupku

Setelah ba’da sholat jum’at, aku dipekenankan untuk duduk di tempat yang telah disediakan untuk mempelai wanita. Aku duduk di antara Ibuku dan calon ibu mertuaku. Semuanya menggunakan pakaian dan jilbab dengan warna senada sesuai dengan rencana.  Terlihat anggun dan cantik. Sedangkan aku yang menjadi pemeran utama menggunkan kebaya putih panjang dengan kain jarik sebagai bawahannya. Ini hari ku, hari bahagia dalam hidupku. Si penulis akan meniqah. ALHAMDULILLAH. Tapi sebelum akad diucap, dag dig dug jantungku menjelang detik-detik itu rasanya semakin cepat. Aku hampir tak bisa mengontrolnya, untung saja ada budenya si mas yang begitu grapyak ngajak aku ngomong ini itu. Suasana menjadi sedikit hening ketika MC acara memulai membuka suara. Untuk memulai acara Sayup-sayup tapi pasti, terdengar suara bapak yang sedang dituntun oleh pak Penghulu untuk mewakilkan akad hari itu. Posisi bapak duduk di depan si Mas yang dipisahkan oleh meja persegi, dan berada diseberang tempat para shaf perempuan. Aku bisa melihatnya dari celah-celah, beliau terbata-bata meniru perkataan pak penghulu. Hatiku haru, mendengar dan melihat prosesi,di mana peralihan tanggung jawab akan segera berpindah.

Bisa dibilang ada banyak hal yang harus dilalui sampai menguras berat badan untuk terciptanya moment tersebut di hari jum’at yang penuh berkah. Tapi itu bukan hal yang pas untuk dibahas saat ini, dipikir-pikir wajar juga kalau ada yang akan menikah dirundung masalah dari banyak sisi. Yang terpenting kata orang-orang, yang sabar saja menjalani. Mau ada masalah apa, salah satu kudu bisa ngebuat suasana adem dan ga tersulut emosi. Akhirnyaa.. terjadilah proses sakral tersebut.

Begitu akad diucap oleh si Mas “Qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur”, hal pertama yang berubah adalah tanggung jawab. Bapak sudah bebas tugas dari segala tanggung jawabnya atas aku - anaknya yang kinyis-kinyis ini. Semuanya sudah take over ke si Mas. Dan saat itu juga, aku harus sadar, kalau aku ini selain jadi anak, aku juga sudah bergelar seorang istri dari seseorang. So.. fase baru kehidupan just begin, Tak lama setelah itu, Si Mas dianjurkan menjemputku untuk duduk di depan pak penghulu dan  kita berdua diwajibkan menandatangani “kontrak” hidup sampai surga. Amin.. amin..

Sampai saat ini hitunglah jalan 3 minggu hidup serumah eh jangan serumah tapi pernikahan kita. Kalau lagi berdua dan ngobrol tentang proses tersebut, sembari dipeluk doski bilang “kita ini udah sah kan ya?” . Akunya manggut-manggut ke enakan dipeluk. So para pembaca budiman, apa mau dilanjutkan ceritanya ? Feel free comment on bellow



Kapan Kamu Akan Menikah

Untuk yang selalu terjebak dengan pertanyaan kapan menikah, yakinlah kau tak sendiri. Hal ini biasanya terjadi di setiap kegiatan halal bihalal, sedikit terselip sebagai bahan pembicaraan antar orang yang sudah ataupun merasa dewasaTernyata pengalaman ini tidak hanya terjadi padaku. Tapi kepada teman-teman yang hampir seusiaku. Setiap bertemu, pembahasan kami selalu menjurus kearah jodoh, pernikahan, hubungan serius dan sejenisnya. Aku bisa mengerti kenapa ada pembicaraan yang sudah mengarah kesana. Bagi perempuan, berdasarkan usia dan pribadinya yang dinilai “mampu” dianjurkan untuk segera menikah. Anjuran tersebut pun pernah diwacanakan di beberapa media konvensional swasta (Sebut itu TV) Bagi wanita berusia 21 tahun sudah wajar untuk menikah. Bahkan anjuran itu kadang mulai frontal hingga beralih ke “Paksaan”. parahnya pula hal itu kadang datang dari keluarga, kerabat bahkan orang lain yang tak memiliki hubungan dengan kita (alias orang lain yang beda bapak-ibu tapi masih satu dunia).

Dari kisahku, Intervensi “segera menikahlah atau kapan menikah?” mungkin lebih banyak dari orang yang belum sepenuhnya mengerti aku. Hanya sekedar tahu umur dan kesukaanku pada anak kecil, lalu tiba-tiba antusias untuk menyuruh menikah. Bahkan ada yang rela mencarikan jodoh. Sempat risih dengan pertanyaan itu, hingga akhirnya smiling can fix it setelah itu ngacir jadi andalan. Aku tak mau ambil pusing seputar menikah. My family love me much, they know me so well. Mereka tau sekiranya aku sudah siap lahir batin, aku bisa menikah kapanpun aku mau, yaa.. tentu kalau jodoh sudah datang ketuk pintu hati. Kalau pun saat ini masih belum ada tambatan hati (sebut saja itu kekasih) why ? single is not bad it all.

Lain aku, lain pula temanku. Kami teman sebaya. Sama-sama single. Kita sering bercanda menikmati  girls day time out. Namun sebenarnya  dia panik untuk urusan menikah. Tak menyalahkan juga jika sudah ada pemikiran dia yang kearah membina rumah tangga. Toh menurutku dia hidupya sudah settle. Tapi ternyata pemikiranku tak sepenuhnya benar. Ada dorongan dari pihak keluarga yang ingin dirinya segara dipersunting. Ditambah dengan tetangga yang selalu ikut campur dengan kehidupan pribadinya. Membuat dia semakin panic dan jenuh dengan pertanyaan yang sama berulang-ulang. Alasan yang diutarakan pun tak lain karena umur. Secara garis keturunan dari kakek moyang, dia saudara tertua dari keluarga besarnya hingga mau tak mau pertanyaan “kapan menikah?” tak pernah luput dari hari-harinya kini. Dia sempat mengutarakan kalimat pasrah “siapapun yang mau melamarku, silahkan datang ke orang tuaku”. Itu kalimat baik. Tapi aku cukup prihatin ketika seseorang sedang aktif-aktifnya mengeksplorasi diri untuk hal positif harus diberondong pertanyaan seputar kapan menikah.

Aku mulai paham, untuk urusan menikah, hal yang paling utama diukur adalah usia bukan persiapan diri. Jika usiamu sudah 20 tahun keatas, maka bersiap-siaplah untuk pertanyaan seperti ini. Bahkan seseorang yang tak punya kepentingan dengan kita pun juga turut andil membuat seseorang yang belum bertemu dengan orang yang tepat bertanya kapan menikah?. Sebal pastinya, ketika kita fokus untuk memperbaiki diri, memperbaiki ekonomi kehidupan, meniti karir kemudian digoda dengan seputar pertanyaan yang dilakukan berulang-ulang.

Pahamilah, bahwa sebenarnya seseorang yang belum menikah tentunya memikirkan hal demikian. Namun dia mampu menyembunyikan dan tetap terus mengguratkan senyum diwajahnya. Semata-mata karena dia tidak ingin menganggap bahwa itu beban dan hidupnya dipandang menyedihkan. Dia tetap bisa bahagia meskipun belum menikah. Bukankah jodoh itu sudah ada yang atur, kalau memang belum bertemu yaa..karena memang belum saatnya.

Bagiku menikah itu bukan hal yang sederhana, menikah bukan drama seperti di telenovela yang digambarkan sebagai perihal yang selalu manis-manis aja.  Bukan pula hal yang sulit sehingga aku mewakili perempuan yang sudah seperempat abad, takut untuk kejenjang lebih lanjut. Menikah butuh persiapan, tidak hanya materi tapi juga hati. Menerima orang baru dikehidupan kita, menerima keluarga baru , mengabdi untuk satu orang selama sisa hidupnya. Banyak hal perlu dipikirkan untuk menikah. Menikah pun juga ada prosesnya. Aku yakin setiap orang juga ingin menikah. Menyempurnakan agama dan memperbanyak generasinya. Aku pun demikian, hanya saja sebelum bertemu dengan orang yang tepat apa salahnya mengeksplorasi diri, mengejar yang belum sempat ter-raih dan mewujukan mimpi yang belum sempat terpenuhi.