Mengatur Keuangan Keluarga Milenial Sedap-Sedap Ngeri!

(Source :Pinterest.com)

Assalammualaikum pembaca budiman. Apa kabarnya hari ini, sehat selalu kan ya?. Eh sudah mendekati akhir bulan, lagi nunggu gajian atau masih jauh dari penantian?. Kalau sudah, apakah sudah terplot dengan rapi?. jangan sampai boncos ya, karena pada dasarnya nunggu gajian itu lebih capek daripada nunggu habisnya. Hehe

Dimulai menjadi Menteri Keuangan  Keluarga Kecil

Sejak menikah dan memiliki gelar “menteri keuangan” begitu mas bojo menyebutnya. Aku mulai rajin mengatur dan membuat plot pengeluaran di keluarga kecil kami untuk satu bulan ke depan. Sebenarnya membahas cashflow itu sedap-sedap ngeri alias gampang-gampang susah, betul tidak? Kadang yang terplot untuk apa, jadinya untuk yang lainnya. Belum lagi harus menulis setiap pengeluaran sekecil apapun itu. Ada hal yang memang harus di redam ada pula yang memang harus direncanakan mulai dari sekarang. Begitu pesan dari para tetua mengenai keuangan rumah tangga yang sering sampai di telinga. Yang kalau di pikir-pikir secara serius benar juga. Mengatur keuangan rumah tangga itu tidak bisa di bilang mudah, tidak pula bisa di katakan susah. Well, Aku akan coba menyampaikan bagaimana caraku melakukan proker "menteri keuangan" rumah tangga ala Dian.  Akan aku jabarkan secara ringkas, padat, jelas kalau bisa disemati candaan biar gak terlalu serius bangeeeet.

Sejujurnya aku baru mempelajari finansial dengan sungguh-sungguh setelah aku menikah. Ralat beberapa bulan setelah menikah. Hehe. Bahkan sampai sekarang ini juga masih belajar. Sebelumnya, boro-boro aku mengatur pendapatan setiap bulan. Ada saldo di ATM saja seperti hanya memberi salam lalu pamit tanpa penjelasan. Entah kenapa, gaji itu cepat banget habisnya. haha. Ada yang gitu juga pembaca budiman, uang di ATM terasa seperti dana siluman? Hahaha

Sebagai generasi milenial yang baru saja dapat gaji. Dulu. aku lebih memperioritaskan keinginanku membeli ini itu. Aku tergolong orang yang suka travelling ke sana dan ke sini. Tanggung jawabku saat itu sebatas membiayai sekolah adek sampai lulus sekolah menengah atas. Setelah usai, aku kembali dengan diriku yang hura-hura. Aku belum memiliki tabungan sama sekali. Aku baru sadar ketika kuliah “kok yang aku punya cuma ini-ini aja” haha galau deh, mulai menyesali beberapa item yang terbeli. Benar-benar contoh generasi milenial konsumtif alias boros kan? (jangan di contoh ya, ayo generasi milenial yang baca tulisan ini segeralah sadar)

Mulanya aku belum memikirkan tentang investasi ataupun dana darurat yang sebetulnya itu perlu sangat perlu untuk dimiliki. Aku punya prinsip, sejak aku bekerja pertama kali di tahun 2009, aku harus memiliki sesuatu yang menurutku itu patut untuk dijadikan sebuah “aset kebanggan”. Semisal aku memiliki barang yang nilainya lumayan “eh aku beli ini ketika aku kerja di tempat ini” semacam itu. Aku menyebutnya sebuah reward telah bekerja keras sehingga aku mampu memenuhi keinginanku sendiri. Tapi seiring perjalannya, karena terlalu memikirkan “kebanggaan” aku sampai lupa untuk membeli sesuatu yang lebih berharga. Hehe

Setelah lulus kuliah dan mulai bekerja kembali, aku menata ulang keuanganku sekedarnya. Iya sekedarnya, sekedar tidak kekurangan uang jajan. Hehe. Ya walaupun setelah kembali berpenghasilan sendiri, aku masih tergoda untuk mengumpulkan barang-barang menurut adalah sebuah "kebanggaan". Hehe. Alasan aku melakukannya sangat klise, semacam balas dendam karena dulu kalau beli apa-apa nunggunya lama banget, sampe barang yang di inginkan udah gak ada di pasaran.

Di tempat kerja yang baru, aku berkenalan dengan seseorang yang bekerja di bank, dia mengajakku untuk membuka rekening tabungan tanpa aku harus datang langsung. Aku setuju bahkan aku juga bisa membuka rekening untuk bapak tanpa bapak harus datang ke sana, hanya memerlukan tanda tangan di atas form pendaftar bank yang dia berikan. Sekian bulan setelah aku memiliki rekening tabungan tersebut, aku iseng datang ke bank untuk melakukan print out. 

Baca juga: kamu sudah isi? pertanyaan tradisi untuk pasangan yang telah lama menikah

Mbak-mbak teller di sana menawariku untuk membuka tabungan berjangka tanpa sanksi apabila tidak melakukan autodebit dari rekening utama. Menurutku worth it, jadi aku mengambil 2 tabungan sekaligus, masing-masing berjangka 1 dan 2 tahun dengan penerima aku sebagai sumber dana dan atas nama bapakku. Yang aku pikirkan, mungkin nantinya bisa digunakan jika adekku ingin melanjutkan kuliah, atau untuk keperluan lainnya. Sekedar informasi, pekerjaanku bukanlah pegawai negri sipil, untuk BPJS pun aku masih mandiri, Hehe  

Beruntungnya setelah 2 tahun kemudian tabungan itu cair. Dan kebetulan pula mendekati tanggal aku akan menikah, jadi aku gunakan untuk modal nikah deh. Hehe. Terbesit dalam pikiran "Untung saat itu memutuskan menabung". Memang Tuhan punya cara suka-suka untuk menggerakkan hati hambanya. 

Memiliki Tabungan Perencaaan untuk masa depan

(source: bali.tribunnews.com)

Tahun 2019, setelah persiapan penikahan selesai dan aku sah menjadi istri. Mas bojo memberikanku tanggung jawab untuk mengatur seluruh penghasilannya sedemikan rupa guna memenuhi kebutuhan rumah dan kebutuhanku. Karena aku juga masih berstatus bekerja, mulai deh safari di internet metode yang pas untuk mengatur penghasilan kami berdua. Aku menemukan sebuah metode yang sempat aku terapkan, yakni metode 50, 30, 20, dengan pengertian gaji dibagi menjadi 50% untuk kebutuhan, 30% keinginan, dan 20% simpanan (tabungan). Alhamdulillah berjalan sementara. Haha.

Mengapa aku katakan sementara, karena pengeluaran dan pendapatan kami dalam satu bulan ternyata rancu. Sebab dalam satu bulan nominal yang aku pegang berubah-ubah khususnya penghasilanku. Ternyata setelah menjadi “menteri keuangan” rumah tangga, aku harus mempersiapkan dana extra untuk hal-hal tak terduga di samping dana darurat. Hehe. Maklum ya, namanya juga newbie walaupun sudah prepare sedemikian rupa, waktu eksekusi selalu menemukan hal-hal yang tak terduga.  Pengeluaran tersebut seperti perawatan kendaraan, rumah beserta isinya, undangan pernikahan, takziah, jenguk orang sakit, ataupun kunjungan keluarga. Itu sebabnya aku katakan rancu karena ada pengeluaran yang over budget dan mau tak mau aku harus mengganggu presentase keuangan lainnya.

Pada akhirnya yang bertahan dari metode 50, 30, 20 hanyalah 20% untuk tabungan. Setidaknya aku sudah mempersiapkan tabungan sejak awal kami berstatus suami istri. Aku memutuskan membuka tabungan berjangka dengan kurun waktu 2 dan 5 tahun dan bisa berlaku kelipatan. Sebuah bentuk investasi yang kami siapkan untuk masa depan nanti dan ini menurutku sangat-sangat berguna. 

Mengalokasikan anggaran

Karena metode budgeting 50,30,20 tidak berjalan dengan baik. Akhirnya aku mem-breakdown apa saja pengeluaran selama satu bulan, supaya keuangan kami sejahtera dan tidak tutup tambal. Hehe. Mungkin bagi sebagian orang, metode ini efektif karena sesuai dengan anggaran belanja mereka setiap bulan, tapi tidak dengan keluarga kecilku. Maka aku harus menemukan cara mengatur keuangan rumah tangga agar tidak boros.

Jika sebelumnya aku hanya menentukan berdasarkan besaran nominal dan presetanse. Kini aku membuat susunan anggaran sedetail mungkin setelah menggumpulkan gajiku dan mas bojo. Aku membaginya menjadi tiga katagori finasial Living, Saving, and Playing. Sebenarnya metode ini tidak jauh beda dengan plot yang aku lakukan sebelumnya. Namun aku ingin memperincinya. Kategori Living terdiri dari kebutuhan belanja bulanan seperti beras, sabun, sampo, minyak, gas, galon dll. Sebelum menentukan beli ini itu pun, aku harus kroscek dengan persediaan yang ada. Sekiranya cukup untuk 2 bulan, aku tak perlu memasukkanya ke dalam list belanja.  

Selanjutnya belanja mingguan, atau anggaran belanja untuk memasak tiap hari dalam seminggu. Seperti belanja sayur dan lauk pauk. Aku membaginya ke dalam 4 minggu dengan pos keuangan di masing-masing week terjatah pasti, jadi apabila ada lebihan di tiap minggu, maka akan masuk pos keuangan “lebihan”. Katagori living selanjutnya adalah tagihan listrik, Orang tua, PBB, wifi, transportasi, cicilan, iuran kampung, orang tua semuanya tercatat sempurna sesuai nominal yang dibutuhkan. Gak takut kurang, kali aja naik?. Aku selalu melakukan pembulatan ke atas dan sedikit lebih untuk jaga-jaga ya yeorobun, sejauh ini semuanya aman.

selanjutnya katagori saving, karena sebelumnya aku hanya menggunakan 1 rekening dan itu membuat keuangan kami salah kaprah. Kini, aku menggunakan 2 rekening untuk membedakan tabungan jangka panjang dan tabungan harian. Jika tabungan berjangka sudah jelas arahnya ke mana, lalu apa fungsinya tabungan harian?. Khusus tabungan harian ini aku gunakan untuk membeli sesuatu yang aku dan mas bojo inginkan. 

Ditambah, saat ini zaman sudah canggih, hampir segala aspek kehidupan kita di dunia yang fana ini dipermudah dengan teknologi. Selain tabungan berjangka, aku juga melakukan investasi yang dapat aku lakukan melalui platform aplikasi di handphone. Tentunya platform yang legal. Inget ya pembaca budiman, yang legal dan sah terdaftar di OJK. Hehe.

Selanjutnya ada dana darurat. Biasanya aku gunakan ketika ada perbaikkan rumah beserta isinya maksudku perabotan rumah ya (pompa air, mesin cuci, kompor, genteng bocor dll), undangan pernikahan, takziah, beli kado dan masih banyak lagi printilanya. tentunya kegiatan tersebut tidak terjadi setiap bulan. Dan apabila dana tersebut tidak dibutuhkan bisa beralih menjadi tabungan. (Tabungan teroooos, Hehe). Terakhir Playing, seperti have fun atau liburan dan sedekah setiap bulan. Semuanya sudah terplot rapi dan di usahakan tidak melebihi budget.

Aku dan mas bojo sepakat, untuk liburan jika di tempuh dengan waktu berhari-hari atau liburan antar provinsi semisal pergi ke Jogja, Semarang, Bandung, Jakarta atau Bali, dapat dilakukan maksimal 1 tahun 2 kali. Pastinya liburan semacam itu butuh biaya extra. Untuk bisa mewujudkannya, aku sebisa mungkin tidak mengganggu pos keuangan yang lainnya. Sebelumnya pun, aku harus merencakan biaya yang diperlukan, sehingga di sana benar-benar bisa menikmati liburan tanpa memikirkan anggaran after holiday. Sedangkan untuk liburan jarak dekat, bisa dilakukan di akhir pekan. Semisal berkunjung ke keluarga, ataupun datang ke tempat-tempat wisata yang tidak membutuhkan biaya besar.

Mencatat pengeluaran sampai yang terkecil

Sejak menjadi “menteri keuangan”, aku lekat sekali dengan bon, struk, nota pembelian jika sumber dana berasal dari dompetku. setelahnya pun aku tidak membiarkan lembar-lembar itu hanya menjadi penebal isi dompet, tapi aku juga mencatat semuanya. Mulai dari pengeluaran sekecil apapun itu sampai dengan pengeluaran terbesar. Semisal uang ke toilet umum apabila kondisi kami di luar rumah, uang parkir ataupun pak ogah di jalan yang kadang hanya sebesar 1000 perak. Semua itu sudah masuk ke dalam buku besar.

Awalnya aku ragu untuk mencatat nominal kecil tersebut. Aku mengganggapnya duit receh. Pasti tidak berpengaruh besar. Aku yakin tidak akan ada perbedaan yang signifikan dalam keuanganku.  Lelah juga jika harus berkali-kali mncatat pengeluaran sekecil itu. Meskipun aku di bantu oleh aplikasi di android. Hehe. Tapi ternyata dengan mencatat setiap pengeluaran berapa pun besarannya, itu sangat membantuku melacak kesehatan keuangan rumah tangga kami selama satu bulan sebelumnya. Jadi aku tau, selama satu bulan missing nominal kecil diperuntunkan untuk apa

Melakukan Finansial Deep Talk 

Seperti yang aku katakan di awal, mengatur keuangan rumah tangga itu sedap-sedap ngeri. Jika memiliki pasangan yang saling mendukung, terbuka dengan cash flow rumah tangga, memahami kebutuhan yang ada di rumah serta kebutuhan-kebutuhan lainnya. Maka, kondisi rumah tangga akan aman sejahtera untuk saat ini dan nanti. Begitupun sebaliknya, jika mendapati pasangan yang tak saling memahami, masa bodoh dengan keuangan rumah, menuntut ini itu padahal kebutuhan pokok lainnya masih kurang, yang terjadi hanya percekcokan berulang. bahkan kisah-kisah perpisahnya suami istri juga bisa di picu karena tidak adanya saling topang atau saling jujur mengenai ekonomi. Bukan begitu pembaca budiman?

oleh sebab itu, aku dan mas bojo sebagai keluarga milenial sering sekali melakukan finansial deep talk. Obrolan khusus untuk membahas keuangan kami. Pernah ada kejadian, ketika kami ada keinginan untuk membeli sesuatu, dana sudah terplot dan akan terealisasi dalam waktu dekat. Budget sudah sesuai dan menurut kami itu terkalkulasi dengan benar, kami berpikir aman sampai akhir. Tidak ada pengeluaran tambahan kalaupun ada, sudah tercover dengan dana tambahan yang sudah kami siapkan. Terbelilah barang tersebut. Sayangnya, tak berapa lama kemudian ada hal diluar dugaan. Dana darurat pun jauh dari cukup. kami kelimpungan dan harus memutar otak untuk menemukan solusi yang tepat. Beruntungnya masalah segera terselesaikan, tanpa kami harus saling menyalahkan karena sedari awal pernikahan finansial deelp talk telah kami terapkan. 

Dalam berumah tangga, karena penghasilan dua sumber di jadikan satu. aku dan mas bojo sebisa mungkin terbuka dan transparan mengenai hal apapun ketika menyangkut keuangan. Kami tak ingin ada perdebatan yang berkepanjangan mengenai soal yang sama. Jadi, sebisa mungkin kami saling percaya satu sama lain. Setelah semua hal diatas telah kami lakukan. Mendekati gajian berikutnya. Kami mulai mengevaluasi anggaran sebelumnya. Mungkin ada hal yang memang perlu ditambah, di kurangi ataupun di pending. 

Nah pembaca budiman, Mungkin penjelasan mengenai cara mengatur keuangan keluarga kecilku ini terlalu singkat, mungkin juga enggak mencover pertanyaan dalam benak kalian (sok iye ya, Haha). Yang jelas kondisi rumah tangga setiap orang itu berbeda-beda. Aku tidak bisa menyamaratakan cara, metode, ataupun anggaranku dengan kalian. Mungkin ada hal yang harusnya di kalian ada, tapi di aku masih belum perlu. Tapi setidaknya, sebagai generasi milenial, yang masih memiliki kesempatan untuk belajar dan mendalami finansial planning. Aku mencoba untuk mengatur keuangan keluarga kecilku dengan jelas dan terarah. Semoga apa yang aku sampaikan sedikit banyak membantu kalian yaa. 

Menulis Menyehatkan Mentalku

(Source: Google.pic.com)

Menulis Menyehatkan Mentalku

Menulis merupakan caraku menyembuhkan mental yang kerap kali di hampiri problematikan kehidupan. Menjadi penyembuh yang disebab oleh ocehan, pertanyaan, teguran, ataupun ketika aku berada di titik terbawah saat kehilangan orang-orang yang aku cintai. Menulis adalah self healing terbaik. Suasana hatiku kembali membaik setelah aku menulis banyak hal yang aku rasakan. Kegiatan menulis seolah seperti terapi.  Kekangan yang menyesakkan dada sirna begitu saja. Aku tak bisa mengungkapkan kekesalanku dengan bicara, tapi aku bisa melakukan sumpah serapah dengan menulis. Aku sangat paham itu tak baik, menyumpahi melalui tulisan. Tapi aku usahakan tulisan itu aku buat se-smooth mungking agar tidak terbaca kasar. Hehe.

Aku tergolong orang yang cerewet. Banyak omong begitulah orang bilang. Tapi aku tak pernah sekali pun membagikan apa yang sebenarnya aku alami kepada orang lain. Aku terlalu takut jika aku di cemooh ataupun dijadikan bahan gunjingan. Jadi sebisa mungkin aku mensortir apa yang akan kusoundingkan. Aku lebih memilih untuk menceritakan hal-hal baik saja sejauh ini, bukan berarti aku tak cerita ataupun curhat ke seseorang. Tentu aku pernah, tapi yang aku maksud cerita sedih yang saat itu aku alami, jika terpaksa harus menceritakan hal buruk yang telah menimpaku, sebisa mungkin aku lebih menceritakan proses untuk melaluinya, bukan saat aku meratapinya. Aku lebih memilih mengekspresikan apa yang aku rasakan lewat tulisan. 

Menulis sambil ngedrakor

Lucunya, kadang saat aku sedang membuat tulisan, aku sering menyelanya dengan menonton drama korea. Bahkan untuk satu tulisan aku bisa menghabiskan 2 sampai 3 episode. Ya begitulah. Mungkin bisa dikatakan multi tasking. Hehe. Tidak selalu seperti itu kok, yang jelas kalau aku sedang menonton drama berarti aku buntu ide. Jadi aku butuh mengistirahatkan otak sejenak. Salah satunya dengan menonton drama korea. Kadang ada hal lain yang aku lakukan selain menonton drama. Aku kerap memutar lagu pop di youtube sebagai alternatif jika aku tidak punya list drama. Menurutku itu sangat membantu.

Beruntung aku bertemu situs blog. Blog adalah wadah terbaik untuk menyebarkan tulisan tentang apa yang aku alami ataupun yang ingin aku sampaikan. Mungkin iya banyak tulisan-tulisan remeh yang menurut orang tidaklah penting, tapi bukankah cara seperti ini lebih baik daripada memendam semuanya sendiri. Oleh sebab itu aku menekuni menjadi blogger. Entah apa yang terjadi, aku mencoba menuangkannya bentuk tulisan dan aku upload untuk dibaca orang lain. Menulis adalah jalan ninjaku untuk tetap bertahan di kerasnya dunia ini. Setidaknya aku memiliki jejak digital yang menjadi saksi atas diriku yang mampu berdiri kini.

 Baca Juga: Tips Menulis Ala-ala

Awalnya aku hanya menulis ketika aku senggang, mungkin kalian ingat tulisanku di konten sebelumnya kenapa aku mulai aktif di blog lagi. Ya karena pekerjaan di kantor yang tidak begitu banyak. Namun setelah beban pekerjaan bertambah, aku kembali menelantarkan blogku ini, sangat disayangkan, tapi mau bagaimana lagi pekerjaan menjadi prioritasku nomer satu. Saat itu aku mengalami fase dimana seluruh ide menulis ambyar tak tersisa, semuanya terkuras dengan pekerjaanku sebagai digital marketing di suatu perusahaan.

Dua tahun belakangan, setelah resign dan binggung harus melakukan apa di rumah selain mulai mengembangkan bisnis online. Aku  memutuskan kembali menulis. Semoga kali ini istiqomah ya. Hehe. Aku memulai lagi dari bawah lagi mengembangkan ide-ide, mencari insipirasi, menemukan tema yang pas untuk konten blogku. Jujurly fokusku bukan pada nominal yang aku dapatkan dari menulis. Tapi pada pembaca budiman yang setia membaca tulisanku ini. Dulu, pembaca artikelku ribuan namun kini hanya segelintir orang. Meski begitu aku tetap besyukur masih ada peminat dengan blogku ini. 

Hadiah Untuk Seorang Blogger

Menulis dan Berpenghasilan

Selamat menikmati hari senin yang ceria pembaca budiman. Iya senin, sengaja upload artikel selanjutnya di hari senin biar tetap semangat. Kali ini bahasnya tentang menulis. Sebuah hobi yang gak sekedar hobi tapi juga berpenghasilan, Ibarat pepatah sambil menyelam minum ar. Hobinya nulis rewardnya rupiah. Disclaimer diawal ya.. semua tulisan ini tidak semata-mata untuk meraup rupiah karena blog ini merupakan blog pribadi jadi isinya yaa suka-suka. Kalian juga bisa suka juga bisa tidak. Hehe 

Jadi gini, awal mulanya kegiatan tulis menulis ini dilakukan sejak aku SD. Inget kan ya, dulu di sekolah guru selalu memberikan PR mendekati libur panjang “jangan lupa buat cerita tentang liburan kalian ya.” nah aku tipikal siswa yang getol banget tuh menghabiskan berlembar-lembar kertas untuk menceritakan pengalaman liburanku, meskipun itu hanya di rumah, gak kemana-mana seperti liburan sekolah sekarang ini. Hehe. Serius aku ini model siswi yang suka banget menulis apa pun saat itu. 

Generasi 90-an pasti banyak bangetkan yang punya buku diary. Kalian salah satunya kah? kalau aku iya. Aku suka sekali koleksi buku diary, sekadar untuk temen-temen isi biodata di sana ataupun untuk mengenang cerita yang aku alami. Apalagi jika diary itu menggunakan kertas licin mirip dengan jenis buku kiki. Itu loh buku tulis mewah merk Kiki yang isinya gak sampai 38 lembar, mengalahkan Sidu tapi harganya masya allah MAHAL. Hehe. Saat itu, untuk anak seusiaku buku diary jadi ajang bertukar informasi sekaligus cara untuk bisa lebih dekat lagi dengan teman. Semisal si A suka apa, hobinya apa, zodiaknya apa  jadi ketika dia ulang tahun bisa tuh, kita kasih kado yang gak jauh-jauh dari kesukaannya berdasarkan info dari buku diary yang dia isi. Yuk generasi 90-an angkat tangan. Jadi nostalgia masa kecil gini :P

Sewaktu SMA pun aku memiliki buku diary yang masih aku simpan rapi hingga sekarang. Rasanya geli sendiri kalau harus membaca ulang tulisanku. Tulisan anak remaja dengan bahasa yang mendayu-dayu. Haha. Lalu era berubah, diary mulai kutinggalkan karena aku sibuk dengan kuliah. Saat itu, kuliah menuntutku untuk aware dengan perkembang dunia digital sehingga aku mulai dekat dengan internet. 

Bersinggungan dengan blog pun aku tak sengaja. Saat itu aku merasa bosan menjadi mahasiswa yang terus bergelut dengan leptop karena tugas tak pernah jera membuat mata dan otak Lelah. Iseng aku melakukan blogwalking alias melakukan view beberapa blog orang-orang. Entah dia sedang menuangkan kegalauan, romansa cintanya, cerita keseharian, review synopsis drama korea, ataupun melakukan tutorial make up ataupun review produk. Aku suka sekali dengan semua tulisan di blog mereka. Tanpa aku sadari, aku merasa setiap tulisan sang owner blog membangkitkan minatku untuk menulis kembali. Tergelitiklah untuk sign up blog dengan nama myspacedianov.blogspot.com di tahun 2013.

Kalau kalian penasaran dengan apa yang aku tulis pertama kali di blog, kalian bisa view blogku di tahun 2013 kok. Artikelnya tetap di sana dan tak pernah ku hapus, hanya beberapa kalimat aku benahi supaya tulisannya rapi. Malu juga kalau memberikan contoh tulisan yang acakadul (emang tulisan saat ini sudah baik?) hehe

Baca juga : Asal Muasal Menulis

Oh ya, untuk konten di blog. Aku tidak rutin ya pembaca budiman. Ada masanya aku merasakan buntu, jadi blog aku biarkan kosong eh bukan kosong tapi gak rutin update. Kalian bisa cek sendiri dari di tahun 2013-2016 sedikit sekali artikel yang aku upload. Aku memang benar-benar buntu, ditambah juga aku harus fokus mengerjakan skripsi karena deadline wisudaku sudah dekat. 

Sampai akhirnya aku di nyatakan lulus di akhir tahun 2016. Alhamdulillah. Lalu aku kembali menulis di tahun 2017. Hal ini di dasari setelah aku bekerja di sebuah perusahaan sepatu dan sayangnya pekerjaanku kebanyakan memiliki waktu senggang. Sedangkan di depanku ada komputer yang sayang sekali jika dianggurin. Ya kan?. Mulailah aku kembali update artikel di blog. Meskipun saat itu aku merasa jika apa yang aku upload tidak berbobot. Iya aku pernah merasakan seperti itu, tapi kembali lagi niat membuat blog ini untuk bersenang-senang jadi aku tetap saja menulis.Hehe. 

Aku mulai memetakan artikel yang harus aku upload apa saja. Ketika membuat tulisan, aku nyaman mengambil genre Fiksi seperti cerpen atau puisi. Semua terinspirasi dari Dwitasari, Genta Kiswara dan Boy Candra dan masih banyak lagi. Bagi kalian yang suka dunia literasi, kupikir kalian tau dengan nama yang barusan aku sebut. Muda-mudi yang bertalenta menghasilkan kalimat indah. Hasil karya mereka memotivasi aku untuk terus menulis. Meskipun saat ini aku tak hanya menulis fiksi, tapi juga blog traveling, review staycation, ataupun tulisan receh lainnya, kupikir aku harus tetap menulis ya kan pembaca budiman?.

Mendaftar ke Google Adsense

Sedang giat-giatnya menulis, di pertengahan tahun 2017 tepatnya di bulan Juli  aku iseng untuk mendaftarkan akun blogku ke Google Adsense. Sekali lagi ya, aku hanya iseng. Aku tidak berharap apa pun saat mengajukan form ini, karena aku sangat-sangat sadar dengan tulisan yang aku buat semacam tulisan receh.Hehe. Saat itu aku hanya mengandalkan viewer dari setiap artikel yang aku upload. Cukup lumayan jadi kenapa tidak aku coba. Dan alhamdulillahnya 2 minggu kemudian aku mendapatkan surel cinta dari Google, jika pengajuanku di approved. Senang rasanya rupiah datang tiba-tiba.

Aku akan share tips supaya akun kalian di monetisasi Google. Cukup simple kok, kalian sering-seringlah upload tulisan. Membahas apapun yang selama itu tidak plagiat atau hasil copy paste dari tulisan orang lain. nothing to lose aja untuk tulisan yang akan kalian upload. Paling penting tidak mengandung unsur pornografi, ujaran kebencian, atau semacamnya lah. Paham kan ya? Insya allah pengajuan Google Adsense kalian di terima karena itu yang aku alami. 

Sejujurnya ada hadiah terindah lainnya untuk seorang blogger yang tidak melulu berupa materi. Meskipun menyenangkan mendapatkan hadiah atau reward atas apa yang kita kerjaan. Terutama itu adalah berasal dari hobi. Adanya viewer dalam setiap artikel yang di upload, apa yang kita tulis, kemudian menjadi sebuah energi positif untuk pembaca bahkan berpengaruh dalam kehidupan mereka, itu juga bisa dikatakan sebagai hadiah. Karya kita memiliki impact positif bagi pembacanya.

So, begitu ceritanya setiap tulisan yang aku tuangkan di blog kesayanganku ini berujung rupiah. Semoga kalian yang hobi nulis juga bisa memanfaatkannya yaa.. Inget selama ada kemauan selalu ada jalan. Hehe.

Memiliki Previlege Dalam Hidup

 

    source pic: Google.com 

Assalammualaikum pembaca budiman. Jumpa lagi … jumpa lagi dengan Dian di sini. Jadi seperti lagunya maissy yang di remake aja. kalian pada tau kan ya?. Hehe. Oh ya selamat merayakan idul qurban pembaca budiman, sudahkah dapat daging qurban?. Sudah dong ya, meskipun di beberapa daerah dilakukan di waktu yang berbeda. Tetap khusyuk kan buat jadi tim terdepan bagi-bagi daging kurban ? Hehe

Anyway beberapa waktu yang lalu aku tak sengaja melihat story IG teman lama yang meng-update sebuah artikel. Di sana menceritakan tentang temannya yang kini sukses menjadi salah satu hairstylist terkenal di Indonesia. Dia akui semua itu berkat sang kakak yang telah lebih dulu terjun menjadi MUA para artis tanah air. Yang kemudian membawanya untuk dikenalkan ke beberapa artis ibu kota, hingga kini memiliki langganan artis kenamaan. Bahkan hingga membuka kelas khusus untuk menjadi seorang barber. And then I realize that. its about privilege, right ?Yes it is. Dan menurutku, itu sah-sah saja. Terlebih lagi jika dia memiliki minat dan bakat di sana. Semakin lebar pula jalannya untuk mencapai tempat yang dituju.

Sekedar mengingatkan previlege diartikan sebagai hak istimewa yang didapat seseorang baik itu dari hubungan yang di bentuk ataupun hasil dari semesta alam yang tentunya menguntungkan seseorang untuk mencapai tujuannya tanpa proses yang berat.  

Aku percaya setiap orang  memiliki privilege masing-masing tentunya dengan porsi yang berbeda-beda. Ada yang sejak lahir sudah kaya karena bapak ibunya crazy rich sehingga tidak kesulitan untuk membeli ini itu dan kesana kemari. Ada juga karena dia memiliki hubungan dengan seseorang yang berpengaruh dan serba ada sehingga apa yang dia inginkan dikabulkan dengan segera, Hal itulah yang menjadikan titik start berbeda setiap orang. Seseorang yang hanya dari keluarga biasa-biasa saja dan tak punya koneksi dengan orang penting tentu perlu effort lebih untuk achieved apa yang dia inginkan.

Pernah dengar cerita Putri Tanjung – seorang pengusaha muda yang beberapa waktu yang lalu menjadi obyek ocehan netizen terkait dengan pernyataannya. Dia mengatakan pernah rugi mencapai 800 juta, lalu melakukan aksi mogok kerja dan berdiam diri di kamar 2 hingga 3 hari. Mungkin bagi yang mengetahui background Putri Tanjung, mereka hanya mengganggap itu hal yang biasa, karena dia bisa bangkit dengan mudah dibantu oleh ayahnya yang notabene seorang pengusaha terkenal di Indonesia. Sedikit banyak, tentu  sang ayah “Si Anak Singkong” ikut andil dalam hal memberikan dukungan moril dan materil kepada Putri Tanjung dalam menyesaikan problematika yang ia alami. Sebuah previlege menjadi anak seorang pengusaha kan?. Lain lagi jika yang mengalami adalah orang yang merintis usahanya sendiri dari awal bermodalkan doa dan tabungan seadanya. Kalian bisa bayangkan sendiri betapa stress dan tertekannya jika mengalami kerugian sebesar itu. Bukan begitu yeorobun?

Dulu, aku kerap sekali membanding-bandingkan diri sendiri dengan apa yang orang lain miliki. Jika aku harus melalui banyak hal  seperti rasa cemas,  rasa marah, rasa kecewa bahkan harus terseok, sesekali gagal dan harus mencoba kembali dari nol untuk mencapai apa yang aku inginkan. Berbeda dengan mereka yang mudah mendapatkannya tanpa bersusah payah berkat privilege yang mereka genggam sedari lahir. Saat itu, cemburuku berlebih hanya karena aku tak seberuntung mereka. Namun, pada akhirnya aku ditampar dengan keadaan yang membuatku lebih berserah dan menerima jika jalan setiap orang berbeda-beda. Toh sisi baiknya, setelah aku mengalami kesulitan-kesulitan itu, aku jadi lebih bisa mengeksplor diri dengan bilang “oh gini ya prosesnya, ternyata aku mampu”.

Lalu apakah ini sebuah keresahan sehingga harus  dibahas dan dijadikan konten blog tercinta ini? Haha Big NO! ya. Bukan keresahan yang berarti kok Just share what Previlege is. Kita tidak pernah bisa memilih privilege apa yang akan menempel di diri sedari lahir. Sebuah keuntungan yang dapat kita manfaatkan di waktu dan situasi yang tepat. Previlege juga bukan hal yang harus di pandang negatif, karena tidak semuanya hanya berdasarkan privilege tetapi juga tekad dan usaha keras. emang ada yang memandang previlege  negatif? tentu saja ada. Tapi aku tak akan membahas yang negatf-negatifnya sekarang. Hehe 

Previlegeku : Aku anak seorang montir motor

Seperti yang aku katakan tadi, setiap orang memiliki previlage dalam hidupnya. Lalu apakah aku juga memiliki privilege? Sure. I Have a lot, masih memper-memper dengan cerita Putri Tanjung.  Sebuah privilege yang aku miliki sejak aku lahir. Hehe. Aku miliki bapak yang bekerja di bengkel lebih dari 30 tahun. Klaim dari banyak orang menyebutkan, jika bapakku adalah masternya untuk membenahi segala jenis sepeda motor. Minat bapak dengan motor gak main-main. Pengaruhnya di aku?. Ketika kendaraan yang aku gunakan mengalami kendala, aku tak perlu repot-repot mengeluarkan uang untuk ke bengkel karena bapak mampu membenahinya dengan cermat. Ketika aku berencana untuk membuka bengkel, tentunya secara pengalaman hal ini tidak sulit, karena bapak bisa berbagi ilmunya untuk memberikan arahan, tanpa aku harus meraba-raba mana yang perlu disiapkan terlebih dahulu.

Previlege selanjutnya, ketika aku menjadi blogger dan beberapa orang men-notice ini. Aku sering diminta membuat copy writer brand untuk endorse IG oleh teman kantor. Pernah juga diminta untuk menjadi editor buletin kantor  dengan bayaran makan siang, lumayan kan even privilege is not talk about money.  Tapi itu menjadi sebuah kebanggaan, karena mereka mengakui kemampuanku dalam bidang tulis menulis.

Move forward, semenjak menikah beberapa orang mengatakan jika aku menikah dengan orang yang tepat, sehingga kehidupanku terjamin dan aman tidak kekurangan sesuatu pun. Bahkan ketika aku memutuskan menjadi ibu rumah tangga dan mengurus kondisi rumah, suami full support. Tidak menuntutku harus ,a ,b c ,d. meskipun kini aku akhirnya menjadi pekerja WFH (work From Home) dengan keinginan sendiri karena rasa jenuh. Ditambah lagi suami bukan perokok, bukan pula seorang yang hobi bermain games yang tak tau waktu ataupun yang doyan kongkow dengan teman-temannya sampai subuh. Bukankah itu juga bisa dikatakan privilege. Keuntungan yang aku bangun dengan memiliki suami yang memiliki sepemahaman yang sama denganku, menciptakan keluarga yang harmonis.

Nah pembaca budiman, semoga tulisan ini menginspirasi kalian dan lebih luwes lagi mendefinisikan privilege yaa. Hal itu dapat kalian mulai dari lingkup terdekat kalian.

Ibu Rumah Tangga Juga Sibuk Berkarir


Assalammualaikum, Selamat mengerjakan kesibukan hari ini pembaca budiman. Bagaimana kabar kalian? Baik, kan?. Anyway ada gak nih yang nunggu tulisan terbaru dari myspace? ada dong pasti, aku cek pembacanya selalu bertambah disetiap artikel. Hehe. Terima kasih ya pembaca budiman. 

Sibuk apa sekarang? sibuk ngantor, atau sibuk dengan pekerjaan rumah karena kalian Ibu rumah tangga?. Pasti banyak banget kan yang perlu di urusin? Aku percaya kok ibu rumah tangga itu aktivitasnya longgar-longgar sibuk because I do.

Sering banget dengar omongan setelah aku memutuskan resign dari kerja kantoran. Tepatnya di awal November tahun 2020, dengan kalimat-kalimat yang menurutku, meng-under estimated status “ibu rumah tangga” atau IRT. “Sekarang sibuknya apa?” “enak ya, di rumah aja, gak sibuk mikir cari duit, kan udah ada suaminya” “oh ya, sekarang udah gk perlu make up an lagi, kan udah di rumah gak kemana-mana” belum lagi celetukan “ya kan enak sekarang uang tinggal nadah ke suami”. Astaga, kurangin ya menjadi manusia yang seperti ini. hobinya uji kesabaran orang. IRT itu gak selamanya menopangkan segala kebutuhan pada suami  kok.  Gimana kalau sebaliknya atau bahkan saling menopang. Ada juga kok Ibu rumah tangga yang mandiri,  berpenghasilan sendiri bahkan bisa sokong kebutuhan rumah. Ada.

Oke, lets talk about it, Memiliki pasangan yang sah tidak serta merta membuatku langsung memutuskan keluar dari tempat aku mendapatkan gaji bulanan. Ada alasan yang masuk akal sampai akhirnya memilih resign sebagai jalan terakhir. Dan lagi, kenapa dengan make up, emang ibu rumah tangga gak boleh tampil cantik pake make up. Enggak perlu nunggu duduk di kantor atau jadi pegawai dulu kan kalau pengen pakai make up?. siapa tau emang dia hobi merias wajah demi kesenangan pribadi for them self. Itu bisa jadi ajang untuk upgrade skill juga loh, siapa tau bisa menghasilkan cuan. ya kan?. Ingin marah rasanya kalau jadi IRT dipandang sebelah mata. Astagfirullahaladzim

Tentunya, keputusan untuk resign dari perusahaan yang menaungiku hampir 2 tahun lamanya penuh dengan pertimbangan matang, serta tabungan yang cukup untuk beberapa bulan kedepan. Perlu prepare juga ya. Catet!. One month notice sejak surat resign kuberikan, tibalah waktunya aku berpamitan dengan para kolega dan customer yang selama ini membantuku berkembang dalam perusahaan tersebut. 

Mengawali diri sebagai IRT, I felt not bad “oh gini rasanya jadi ibu rumah tangga”. Aktivitas harianku berubah total. Yang sebelumnya, bangun pagi buta sudah disambut dengan rutinitas  segambreng dan diburu waktu supaya segera berangkat kantor on time. Berubah jadi flexible. Urusan rumah bisa dilakukan pelan-pelan mengikuti mood. Rumah lebih bersih dari biasanya. Bisa terus menulis di blog kapan pun tanpa sungkan diamati oleh atasan (lah emang mau kerja atau mau bikin tulisan. Hehe). Paling nikmat, aku memiliki waktu untuk tidur siang teratur. Rasanya lumayan  for a while

Aku rindu menjadi Pekerja

Sayangnya perasaan itu hanya singgah sementara, i miss being busy women. Namanya juga menjadi wanita karir bertahun-tahun lalu menjadi ibu rumah tangga yang “diam” saja di rumah ternyata merasakan dilema juga. 3 bulan tidak melakukan apapun selain aktivitas rumah membuat aku rindu dengan dunia kerja. Aku rindu melakukan aktivitas yang mempertebal kantong bos rame-rame. Hehe. Setelah aku diskusi dengan suami perkara ini. Dia mengusulkan aku untuk melakukan kegiatan lain. Entah ikut komunitas, ikut pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan marketing digital, novelis,  ataupun berdagang. Atau jika ada tawaran dari sebuah perusahaan yang mengizinkan Work from Home, aku diperkenankan  untuk join. Pernah suatu ketika, aku info jika ada tawaran kerja yang mengharuskan aku stay di kantor dengan posisi seperti sebelumnya, menjadi sales sebuah brand. mas bojo sih oke-oke aja TAPI dengan berat hati. nah, dengan berat hati ini yang mengurungkan niatku untuk kembali aktif jadi karyawan kantor tulen.

Sekedar informasi, mas bojo ternyata tidak rela jika aku kembali menjadi pekerja dan berada di devisi pelayanan a.k.a sales atau marketing, hehe. Menurutnya, pekerjaan itu melelahkan karena aku pastinya melakukan double job. Akan sangat sulit bagiku menjadi ibu rumah tangga yang mengurus keperluan rumah dan  menjadi pegawai kantor secara bersamaan. Setidaknya itu yang aku alami di 1 tahun pertama menikah hingga kami kerap sekali berselisih. Oke aku setuju, karena bagaimana pun alasannya masih masuk akal. 

Saat itu aku sungguh kewalahan  dan kelelahan menjalani 2 peran. Pasti ada yang di korbankan di dalamnya seperti waktu bersama. "Lah emang pulangnya gak ngobrol, gak ada our time?". Ada tentu, tapi itu tidak maksimal karena kami sama-sama pekerja dan tempat kami bekerja sangat jauh dari tempat tinggal. Tiba di rumah pun sudah larut malam dengan kondisi badan yang lelah dan butuh istirahat cukup untuk ke esokkan harinya. Tempat kerjaku di Surabaya Utara sedangkan mas bojo di Mojokerto Kota, awalnya kami berfikir untuk memilih tinggal di tengah-tengahnya - Sidoarjo, supaya akses ke tempat kerja masing-masing lebih mudah, tapi nyatanya malah membuat kami jauh dan tidak ada waktu untuk berduaan. Week end pun kami minim istirahat, karena harus kesana dan kemari mengunjungi orang tua ataupun kerabat lainnya. sungguh aku tak mau mengulanginya lagi. Hehe.

Sampai akhirnya, untuk kebaikan bersama aku memutuskan untuk meninggalkan pekerjaanku dan pindah keluar kota mendekati tempat suami bekerja - Mojokerto-.  By the way aku sangat salut dengan wanita yang sanggup berstatus ganda menjadi wanita karir dan seorang ibu rumah tangga yang sukses mampu mengatur waktunya dengan baik. Kalian luar biasa.

Jika kalian ada yang penasaran kenapa tidak menjadi admin saja jika ingin kembali menjadi pekerja kantor. Jujurly aku pernah mencobanya pembaca budiman, tapi apa daya, aku selalu berakhir menjadi bagian dari tim pemasaran entah kenapa. Hahaha. Mungkin karena karakterku sendiri yang dilihat perusahaan cocok berinteraksi dengan banyak orang. Alhasil aku memilih mundur.

Waktu terus berjalan,  aku berinisiatif untuk mengembangkan bisnis online yang sebelumnya sudah ku rintis jauh sebelum resign. Awalnya toko online ini hanya sebagai penghasilan tambahan, karena aku masih menjadi karyawan yang menerima gaji setiap bulan. Tapi saat ini, justru itu yang menjadi penghasilan utamaku. Hehe

Fokus dengan apa yang dikerjakan

E-comku ini menjual perlengkapan bedding, souvenir pesta, frozen food dan handuk. Lalu, di bulan Maret 2021, aku iseng menjual mukena ke perkumpulan ibu-ibu perumahan Sidoarjo - Surabaya melalui grup Whatsapp dengan hanya bermodal gambar. Tenyata gayung bersambut, mukena yang aku share banyak di minati bahkan ada yang bersedia menjadi resellerku. Beberapa dari mereka request untuk check out melalui toko online untuk meminimalisir biaya ongkir. Semula aku hanya mengandalkan sistem reseller dan dropship. Sampai pada masa orderan yang masuk terus bertambah hingga akhirnya, perlahan aku mulai stock produk yang menurutku fast moving. Jika pembaca  budiman penasaran, kalian bisa search di SHOPEE & TOKOPEDIA dengan nama KHAFAWORLD yaa. Sekalian berenang minum air ceritanya. Hehe

Tak cukup sampai disitu, menjadi ibu rumah tangga yang “hanya” stay di rumah ternyata membuatku tergelitik untuk mendapatkan penghasilan tambahan (lagi) dengan join di aplikasi hijau -GoFood-.  Aku mencoba peruntungan dengan menjual snack siap santap khas korea dengan nama SNACKMU BY DIAN . Yang sebelumnya aku jual dalam bentuk frozen, kini bisa di nikmati selagi hangat. Alhamdulillahnya, ada peminat. Semuanya tentu aku buat dan aku handle sendiri. Sementara ini hanya tersedia di area Mojokerto, mungkin kedepannya akan aku lakukan ekspansi di kota-kota lain. How knows yaa. Hehe. Amiinn paling serius

Nyaman dengan kegiatan seperti ini, aku sedikit lupa keinginan untuk kembali bekerja sebagai pegawai kantoran. Namun, secara tiba-tiba di awal bulan April ada kabar bahagia dari seorang teman. Dia menawariku pekerjaan yang bisa di handle hanya dari rumah alias work from home. Kapan lagi digaji setiap bulan meskipun di rumah. Ye kan?.  Setelah dia info job desknya ngapain aja dan suprisingly gak jauh dari pekerjaanku sebelum-sebelumnya. Tentunya saja aku berminat. Aku langsung diskusi dengan mas bojo. Alhamdulillah nya dia setuju, karena memang kerjaan ini bisa dilakukan di waktu luang plus aku gak perlu pergi ke kantor ataupun melakukan kunjungan-kunjungan ke pabrik dan mencari customer. Setelah send CV dan dilakukan interview by phone, akhirnya aku resmi bergabung dengan perusahan suplemen makanan di Jakarta hingga saat ini. Alhamdulillah

Boleh dikatakan, jika aku saat ini tetaplah menjadi ibu rumah tangga yang “hanya” di rumah. Tapi itu tak membuatku berkecil hati. Aku memiliki kesibukan dan tetap produktif, kan?. Aku bisa mengatur keadaan rumahku, pasanganku, aku  bisa terus menulis bahkan aku juga berpenghasilan. Aku menyadari menjadi ibu rumah tangga tetaplah bisa disebut sebuah pekerjaan. Banyak hal yang harus dilakukan untuk menjaga keluarga tetap harmonis dan tidak kekurangan sesuatu apapun di dalamnya. Entah digaji atau tidak, IRT patut dihargai karena itu bukan hal yang mudah dilakukan. Bagi yang masih percaya stigma tentang ibu rumah tangga yang hanya leha-leha sembari nunggu jatah bulanan dari suami. Rasanya perlu memperluas jalan pikirannya, karena menjadi ibu rumah tangga juga bisa meng-upgrade diri dan tetap bisa berkarir. So, pembaca budiman, jadi ibu rumah tangga menyenangkan bukan?. 

Usia Katanya Just A Number Tapi Kenyataanya


Assalammualaikum pembaca budiman, selamat beraktivitas semua?. Selamat mengawali bulan Juli. Planning bulan lalu aman kan?. Jangan lupa, bulan ini di maintenance lagi, biar target terpenuhi. Hehe. Dan jangan lupa tetap berusaha untuk selalu sehat. IYA sehat adalah point penting dalam setiap tulisan ini. Sudah ngapain aja di separuh tahun ini,  ada yang bertambah? hehe

Seperti biasa, aktivitas harianku selain pegang spatula, pakaian kotor dan pritilan rumah lainnya. Adapula pegang leptop dan tentu saja sampingannya ya nulis, toh emang hobinya nulis. Hehe. By the way di antara kalian adakah yang usianya sudah kepala tiga? bagaimana rasanya, biasa-biasa aja kah, risau kah, sedih kah yang semacam gak rela gitu "kok tiba-tiba udah kepala tiga aja". Alasanku menanyakannya ya karena aku sekarang aku diposisi itu, Hehe. (Huaa menolak kenyataan yeorobun, Take a Deep Breath). 

Akhir tahun 2021 di bulan November usiaku sudah kepala tiga. Iya. Udah Tiga Puluh, it means tahun 2022 ini, aku menginjak usia Tiga puluh Satu (Insya allah, semoga Allah memberikan usia Panjang, bisa kakek nenek dengan suami dan anak cucu. Plus masuk surga sama-sama. Amiin paling serius yaaa (AMIIIIN)).

I know Age it just a Number, tapi gak bisa di pungkiri, dalam hati ini loh kok ya sedih. Sudah secepat itu waktu berlalu, tiba-tiba aja udah menginjak usia kepala Tiga. Dalam benakku banyak pertanyaan yang muncul “sudah dewasa kah aku?, sudah bijaksana kah aku?, sudahkah aku membahagiakan orang sekitarku, atau justru sebaliknya?, apakah yang aku lakukan saat ini bermanfaat, dan itu untuk siapa saja?”.  Semuanya menyeruak satu persatu dan bikin galau. Awww kenapa ini,  Istigfar Dian, ayoo istigfar astagfirullah.

Awalnya, aku tak begitu memikirkan. Ya menurutku ini hanya peralihan dari 29 ke 30. Sekali lagi  it just a number don’t worry about it, but in fact Ketika itu terjadi, perasaanku berubah. Ternyata usia 30 mempengaruhiku. Mikir banget ya, aku mengalami krisis percaya diri. Hehe. Itu terjadi ketika ucapan selamat ulang tahun yang datang padaku, ternyata aku sudah tua. Sudah sejauh mana aku bergerak, pencapaian apa saja yang telah aku lakukan, apa aja perubahan yang terjadi padaku sejauh ini, apakah semuanya berjalan baik-baik saja. Kenapa cepat sekali masa muda itu berlalu. Padahal aku sangat sadar, jika masa muda tidak pernah abadi. Akan ada masanya seseorang berkesempatan untuk merasakan tua dan dari transisi inilah semuanya dimulai, di usia 30. 

Aku masih belajar memaknai kehidupan, entah itu kehidupan bersosial ataupun kehidupan rumah tanggaku sendiri yang semuanya serba baru. Di samping itu aku beryukur, Allah masih mengkaruniakan aku usia sejauh ini untuk terus menyambung kasih bersama orang-orang yang aku cintai. bersama mereka aku dapat menikmati setiap jam, hari dan tahun bersama. Meskipun aku juga mengalami kehilangan, tentunya aku tetap bersyukur, karena aku diberikan kesempatan untuk bisa membersamai dan mempunyai kenangan indah bersama mereka.

Mengalami Fase baru dalam hidup

Usia 30 adalah fase baru dalam hidupku. Ada impian-impian yang harus aku tanggalkan menyesuaikan dengan keadaan. Pun ada hal-hal baru yang mulai aku susun kedepannya. Ketidakpastian yang sebelumnya aku tunggu-tunggu mulai aku relakan perlahan-lahan. Entah aku mulai mencoba memaknai yang aku genggam sekarang ataupun melepaskan yang harusnya dilepas. Memang tidak sesederhana itu, but its true, aku menyadari tetap menjadi manusia rata-rata di antara jutaan manusia di muka bumi ini yang sukses dengan karir, ekonomi, akedemik, bahkan karyanya yang di eluh-eluhkan manusia lainnya bukan lagi menjadi masalah untukku. Aku pun menyadari jika kapasitas setiap orang itu berbeda-beda begitu pula dengan jalan takdirnya.

Selain telah menikah, ehh btw menikah ini gak harus usia tertentu sih. Rasanya perlu di ralat nih, even kalian udah berusia yang kebanyakan orang mengatakan usia 30 adalah usia matang, kalau memang tidak ada keinginan menikah dan belum siap untuk menikah its up to you. Jangan kemakan doktrin ya, jika perempuan harusnya menikah di usia sekian, berkarir dan sukses ataupun mapan di usia sekian. Memiliki anak, rumah, kekayaan di usia sekian, kenapa semuanya harus diatur.

Pada kenyataanya, tidak semua orang yang mencapai usia kepala tiga bisa achived semua doktrin itu. Ada yang masih berdarah-darah membangun karirnya, masih struggle dengan studinya atau bahkan ada yang sibuk dengan menina bobokkan anak mereka. Kenapa tidak membiarkan semuanya sesuai dengan keinginan pribadi masing-masing. Kitalah yang menentukan jalan hidup kita sendiri. termasuk bahagia dengan cara yang menurut kiya oke. Bukankah tradisi dan sebuah “katanya” hanya akan memperberat langkah untuk maju. Its Sucks!. 

Aku percaya setiap orang memiliki garis hidup masing-masing. Aku menikah karena aku memang merasa pasanganku ini pas di hidup aku.  Dia mampu menyeimbangi kerandomanku, mampu meluluhkan hatiku, kita punya visi dan misi yang sama kearah yang lebih baik dan terlebih aku mencintainya. Bukan semata-mata karena usiaku sudah "matang" dan aku harus menikah. Bukan. Menurutku menikah untuk seumur hidup sekali, dan tentunya aku harus berhati-hati dengan siapa menghabiskan sisa umurku. Kebetulan aku menikahnya di bawah usia 30.  Kebetulan yang Allah susun dengan cara-Nya yang indah. Begitulah..

Masih Layak dianggap Muda

The truth is meskipun aku menginjak usia kepala tiga, disekelilingku tidak banyak yang menyadari sebelum aku menyebut usiaku sebenarnya. Beberapa orang menganggap jika usiaku masih terlalu muda berstatus sebagai istri. Ada nilai plusnya, tenyata aku masih layak jika dianggap sebagai muda mudi dilihat dari wajah dan gaya berbusana Hehe. Serius untuk lingkungan tempat tinggalku saat ini, mereka menganggap aku demikian. Mungkin karena perawakan  yang menolak tua dan mungkin juga karena belum ada tanggungan anak kali ya. Nah khusus untuk ini, aku percaya yang Maha Pemberi Rezeki tau kapan waktu yang tepat untuk aku menjadi seorang ibu. Tanpa membuat aku berkecil hati, Allah selalu mengajarkan aku untuk mengganggap bahkan hal lainnya yang aku nikmati juga sebuah rezeki. Apakah ini bentuk kedewasaan? entah yang jelas itu pemikiranku saat ini. 

Tentunya aku sangat berterima kasih untuk diriku. I wish di usia yang sudah tidak muda lagi, aku selalu ingat jika setiap keresahan dan kegelisahan di masa lampu dapat dikemas dengan baik tanpa menimbulkan sedikitpun dendam. Mampu berdiri di kaki sendiri dalam mengatur finansial, berolahraga rutin, rajin ber-skincare an sesuai dengan kebutuhan, Menjalani kehidupan dengan keluarga kecil yang saling sokong, saling mengerti dan saling mencintai sebagai kunci. Kuat dan tidak goyah dengan permasalah yang ada. Damai dengan apapun yang mengecewakan. Mampu menikmati hidup dengan sudut padang yang berbeda dari sebelumnya. Tetap waras meskipun dunia mampu membuatku gila. Memahami jika tak patut untuk membanding-banding kehidupan sendiri dengan orang lain. Sekali lagi, kita tak tau apa yang sebenarnya mereka rasakan sampai mereka di tahap seperti itu and yay! tetap bersyukur tanpa merendahkan yang lain. so, kesimpulannya even age just a number tapi tidak sepenuhnya angka, karena semakin banyaknya usia, semakin banyak pula pengalaman yang dialami dan menentukan bagaimana cara menyingkapi hidup, begitu kan ya?