Pengalaman Satu Tahun Work From Home (WFH)

Assalammualaikum pembaca budiman. Semoga kalian sehat selalu yaa. Work From Anywhare atau yang bisa disingkat WFA adalah sistem kerja yang memungkinkan para karyawannya bisa dilakukan di mana saja. Wahnya lagi ternyata sudah aku geluti selama 1 tahun belakang. Gak terasa yak, udah 1 tahun aja. Hehe. Fyi untuk pembaca budiman yang baru tau model WFA yang aku kerjakan seperti apa, kalian bisa baca postingan yang pernah aku tulis sebelumnya kesibukan baru work form home. Jadi, ketika ada yang berucap sok sibuk padahal aku di rumah aja, plis baca ini, supaya suuzonnya gak terlalu jauh. Aku emang di rumah tapi nyambi kerja, kata kreatifnya di rumah tapi produktif, gitu ya.

Baca juga: Mengatur keuangan keluarga Milenial Sedap-Sedap Ngeri!

Di kantorku ini, sistem kerja WFH & WFA sudah ada sebelum COVID menyerang, partner kerjaku salah satunya, dia mulai join dengan perusahaan tempat aku bernaung sejak pertengahan tahun 2019. Lalu tersiarlah kabar mengenai COVID yang sebelumnya menyerang Wuhan, Cina datang ke Indonesia, gong deh istilah WFA & WFH ini. Bahkan kntor suami yang sebelumnya gak ada istilah WFH mulai memberlakukan istilah tersebut.

Sebagai mantan pekerja kantoran yang kurang lebih 10 tahun harus nandon di kantor dan sesekali harus kelapangan untuk melakukan kunjungan ke klien, aku sama sekali gak punya gambaran mengenai kerja yang di remote dari rumah. Hanya saja waktu itu, karena partner kerja yang  kusebutin tadi juga salah satu member circle pertemananku sejak SMP dan sekedar tahu kalau dia kerja di rumah. So, nyeletuk deh “ ih.. mau dong kerja di rumah, enak nih, di rumah aja dibayar”. Kira-kira begitu ucapku saat baru aja memutuskan berhenti kerja di tempat terakhir dan fokus jadi ibu rumah tangga.

Selang beberapa bulan, ditawarilah aku pekerjaan WFH atau WFA ini, jujurly kaget (lah beneran kayak yang aku pengen) dan belum kepikiran kerjanya harus ngapain, nothing to lose lah, halah kerjaan ini begitu pikirku. Sumpah gampangin banget waktu itu karena emang ketika di share SOW nya, SOW apaaan … kali aja ada yang tanya (scope of work yaa) cuma repost doang. Begitu. Iya mulanya hanya repost doang kerjaannya, namun semakin ke sini, semakin gimana gitu. Penuh cerita juga ya. Adaptasi sama pekerjaan juga makan waktu. Hehe

Setiap temen yang tanya aku kerja apa dan mendapatkan jawabanku. Banyak yang comment kalau itu adalah kerja impian banyak orang. Bisa bekerja di rumah, menggunakan daster, tanpa harus apply make up dan bisa kemana pun, I mean bisa beli jajan di toko sebelah, nongkrong di café mana pun walaupun di jam-jam trafficASALKAN fast respon karena semua kerjaan bisa di remote via handphone. Begitu katanya. Padahal ya gak gitu juga lho seriusan. Ada momen yang ngebuat aku harus duduk di depan leptop dari pagi hingga sore, mungkin istirahat ya kayak sholat, makan, ke kamar mandi lalu setelah itu lanjut lagi depan leptop. Capek? Iya pasti tapi gimana tanggung jawab dan konsekuensi.

Baca juga: Akhirnya Blogspot Menjadi (dot)com

Lanjut, waktu berjalan sangat cepat, tiba-tiba sudah menginjak 1 tahun aja. Gak mudah memang pekerjaan yang sempat aku anggap remeh ini karena dilakukan di rumah, tapi juga gak begitu rumit. Eh gimana-gimana?, kayaknya keliru ngomong nih ada rumitnya kok bahkan sempet bikin nangis dan mau nyerah. Haha. Emang iya, bikin nyerah? Iya hampir!

Jadi gini, 3 bulan pertama aku fokus untuk pegang sosial media, hanya repost-repost story Instagram which is itu gampang kan, bisa dianggap aktivitas selingan, lalu mulai merambah posting feed namun masih aman karena materi sudah disiapkan, 3 bulan berikutnya merambah area e-com, lalu merambah menyiapkan materi IG, dan entah kenapa jadi tambah banyak kerjaanya. Haha  Sejujurnya mulai keteteran dengan pekerjaan yang di berikan sedikit demi sedikit. Even everyday is not busy day tapi ada moment yang kerjaan itu gak ada berhentinya. Tau kan ya, maksudnya gimana?

Special artikel kali ini aku share plus minus kerja di devisi “Digital Officer” dengan sistem kerja WFA. Barang kali ada yang mau samaan cari kerja yang modelan begini, bisa tuh baca-baca tulisan ini. Suka dukanya, baik buruknya. Apa benefitnya secara garis besar. Gak juga akan mengalami kayak aku sih (dukanya), tapi kurang lebih lah. Begitu aja ya ngomongnya. Hehe. Baiknya, info kelebihannya dulu memilih kerja WFA/WFH. dari hanya pertimbangan, aku putuskan mengerucutkan menjadi 3 hal utama yang menurutku paling menyenangkan saat memilih WFH/WFA ini.

Fleksibel

Jujurly, kerja secara online itu fleksibel menurutku. Bisa kerja di mana saja, gak terbatas ruang, bahkan ketika bangun tidur dengan hanya menggunakan daster, belek masih nempel langsung buka leptop di kamar ya gak ada masalah. Meskipun tiap hari ada meeting virtual its okay karena tanpa menunjukkan look muka gimana. Btw kantorku menerapkan sistem WIP (Work in Project) dengan Google Meet di jam 9 pagi till the end, untuk report hari ini ngapain aja, kecuali hari libur atau tanggal merah ya,

Hemat

Yup, memilih WFH itu sisi positifnya aku bisa hemat uang jajan, uang transportasi. Jaga-jaga lapar mata ketika ngeliat gerobak makanan sliweran depan kantor. Aku emang manusianya gini, suka pengen kalau liat makanan enak. Hehe. Lah emang di rumah gak ada gerobak makanan yang sliwar-sliwer? Sebenarnya ada sih, cuma gak begitu tertarik, entah ya, euforianya berbeda kalau sama temen kantor. Dulu biasanya diajakin “yuk beli ini, yuk beli itu” manut dah.

Multitasking

Menjadi ibu rumah tangga dan wanita karir tentu meguras tenaga dan energi. Beres di kantor, belum tentu ketika tiba di rumah tiada pekerjaan, tentu selalu ada aja yang harus dilakukan. Ini kelar gantiaan ini, satunya kelar gantian satunya selalu aja gitu, bener gak nih? Yok  wanita karir + ibu RT keluarkan uneg-unegnya. Hehe. Nah, itu menurutku jadi salah satu alasanku mengiyakan tawaran pekerjaan. Jadi ada keseimbangan peran antara karyawan kantor dengan peran menjadi Ibu rumah tangga. Saat pekerjaan perihal kantor kelar, aku juga lanjut melakukan pekerjaan rumah dalam satu waktu.

Kini giliran Kekurangan dari WFA, ini yang juga harus dipertimbangkan sih buat kalian yang memutuskan untuk memilih pekerja dengan sistem kerja kayak gini.

Tidak ada batasan Waktu/ Jam kerja yang gak pasti  

Jangan kaget kalau kamu memilih kerja WFH, kamu akan jauh dari office hours 8-5 pm. Yap! Hal yang paling sering di sambati selama setahun ini adalah karena tidak ada batasan waktu untuk kerjaan. Terus aja mengerjakan “PR” kantor meskipun waktu menujukkan jam rehat, atau tanggal merah. Hal ini juga yang kadang bikin mental gak bagus, kadang ya. Mungkin karena lagi capek-capeknya kali ya.

Kurangnya komunikasi

Karena basicnya WFH yang gak pernah face to face sama temen kantor ataupun se tim, sometimes merasa kalau komunikasi kurang, dampaknya ada aja kerjaan yang missing. Ya begitulah ya.. Ada moment yang butuh jawaban cepet, ada moment yang waah terlalu lama ini kalau buat nunggu, ditelp gak bisa, kalau satu kantor kan enak, tinggal dial number atau gak hampiri di meja kerjanya. 

Faktor Lingkungan

Karena pekerjaan kantor lebih sering di handle dari rumah ketimbang keluar ngafe, ngewarkop. So, kendalanya ya dari lingkungan rumah, tiba-tiba ada pengamen yag ngejreng gitarnya keras banget, macam konser tunggal. Berlanjut tamu yang tiba-tiba tok-tok pager nawari produk jualan dan lagi karena mas bojo ini seneng banget peliharan unggas semacam burung-burung yang lebih dari 5 ekor, bisa dibayangin ruwame banget rumah jadi suaranya kek di bird park.

Gak punya temen ngobrol

Pernah denger istilah ini "oke kerjaanya nyebelin, tapi selama temen-temennya asyik, gass terus” Ini juga yang kadang aku alami. Hehe. Kekurangan temen ngobrol padahal sensasinya ngantor juga bisa ngobrol dengan partner kerja yak, berbagi derita, tau mimik wajah masing-masing. Nah ini yang kadang aku kangenin dari WFO (Work Form Office) Kalau WFH semua urusan larinya ke chat, ya bener kalau urgent ya tinggal japri dan telepon, tapi menurutku masih kurang. Hehe

Udah lumayan kan ya sharingnya. Semoga bisa jadi renungan buat pembaca budiman yang mau fokus dan memilih WFH. Bagaimana pun aku bersyukur kerjaan yang ternyata sudah 1 tahun di jalani ini juga menghasilkan sesuatu yang aku idam-idamkan, sedikit banyak juga bisa mengisi waktu luang. Untuk masalah kerjaan tentu saja ada tapi balik lagi semua kerjaan punya resiko masing-masing.

Chilldfree atau Banyak Anak?

source: https://analysis.netray.id/

Assalammualaikum pembaca budiman. Semoga selalu dalam kondisi baik. Selamat lebaran bagi yang merayakan, semoga kehangatan selalu menyelimuti keluarga kita semua. Belakang rame oh sorry aku ralat, mungkin beberapa bulan yang lalu gaduh diperbincangkan di dunia maya tentang seseorang yang menolak atau memutuskan untuk tidak memiliki keturunan. Bahasa gaholnya ChildfreeYou know who is she tanpa aku menyebut namanya, kan?. Tanganku gatel nih untuk ikut membahas hal tersebut, ya ibarat kata ingin menuangkan pendapat gitu. Disclaimer yaa semua yang aku utarakan adalah pendapatku pribadi, pengalaman pendekku, dan serta bagaimana upayaku untuk mendapatkan garis dua. Pada akhirnya aku memutuskan menjadi orang yang lempeng-lempeng aja dengan keputusan Tuhan bagaimana baiknyaSebenarnya sah-sah aja sih siapapun berkata apa dan pendapatnya apa tentang kehidupan pribadinya, as long itu enggak menyudutkan satu pihak mana pun. Pasalnya, yang harusnya merdeka untuk berucap aja malah jadi boomerang. Lalu tersiar di sosmed dengan jawaban yang “nyeleneh” mengenai pernyataan istri muda yang rupawan itu, iya rupawan. Menurutku ya.      

Bukan di Posisi Keduanya       

Sejujurnya aku tidak diposisi keduanya, maksudku belum memiliki anak dan tidak memilih Childfree, seperti yang aku info di paragraf awal masih sedang berusaha, get it?. Tangan ini loh tergelitik untuk menjadikan issue tersebut salah satu konten bulan ini. Nyatanya, aku bagian dari istri yang sedang berjuang untuk mendapatkan garis dua dan memiliki banyak anak (Aamiin- yang ikut mengamini semoga ada hal baik yang menimpanya hari ini). Anggap saja, aku adalah perempuan dan seorang istri yang mimpinya seperti kebanyakan perempuan lainnya, menganut keyakinan anak adalah rezeki dan penyempurna dalam kehidupan rumah tangga. Tapi bukan berarti gak ada anak, kehidupan rumah tangganya gak sempurna. Please, dont think like that! ini yang kadang masih dianggap aneh oleh banyak orang. 

Jadi ketika ada seseorang yang memilih untuk tidak memiliki keturunan aku penasaran apa yang mendasarinya. Apakah dengan memutuskan demikian akan merubah keadaan atau justru membuatnya semakin tidak percaya pada dirinya sendiri jika dia mampu untuk menjadi seorang ibu. 

Jadi begini, memilih untuk tidak memiliki ataupun ingin segera memiliki adalah hak dari orang tersebut, aku setuju jika itu adalah pilihan pribadi antar pasangan. Memberikan komentar dengan mengatakan jika itu tak benar ataupun sebaliknya juga menurutku itu dipersilahkan as long berada di koridor yang tepat yang jelas bukan menghakimi. Semisal orang tua yang mengutarakan pendapatnya- ingin segera memiliki cucu- lalu diskusi ke para anak-anaknya ini. Ingat pendapat ya bukan memaksakan kehendak. Saat pendapat itu diutarakan dan yang bersangkutan (anak-anak tadi, red) tidak menggubris dan memilih tetap teguh dipendiriannya. Itu juga haknya karena sebagai orang tua yang mengikhlaskan anaknya di pinang oleh seseorang maka, tanggung jawab tersebut beralih ke suaminya.

Baca juga : Selamat Menikmati 1057 Hari Pernikahan, Mas!

Perkaranya begini, Dia- aku akan menyebut seseorang yang menjadi influencer, blogger dan writter tersebut begini saja. Terlepas dari prestasi dan aktivitas kini yng berseliweran di sosmed, telah menggaungkan jika tidak berencana memiliki anak dalam kehidupan rumah tangga. Menurutnya, sebagai seorang perempuan, dia bebas menentukan pilihan hidupnya sendiri termasuk tidak menjadi seorang ibu dan hal tersebut didukung oleh suaminya. Setuju kah aku? pada kenyataannya, aku setuju jika gender tidak membatasi seseorang untuk bisa melakukan apapun dan menentukan apapun apalagi sesuatu yang mempengaruhi hidupnya sendiri, asalkan tidak mengusik orang lain dan atas persetujuan bersama, tapi jika itu keputusan untuk tidak memiliki anak baik itu kandung, angkat ataupun adopsi aku rada gimana gitu, ya jujurly balik lagi aku termasuk perempuan rata-rata yang berkeinginan memiliki momongan. 

Dia yang sangat aktif menyuarakan isu tentang perempuan, ketika seorang perempuan yang kodratnya hamil, melahirkan, menyusui lalu tiba-tiba memilih Childfree, menjadi gaduh bahkan menjadi trending  yang dibahas di sosial media, bahkan pernah diangkat menjadi salah satu berita di TV Nasional lho, karena merupakan topik sensitif yang bertolak belakang tradisi warga Indonesia, gitu ya?. Pas pula! ketika followernya berasal dari negara +62, mereka menggangap bahwa hal tersebut adalah bahan empuk untuk digunjingkan, apalagi sebuah statement itu keluar dari seorang influencer. Netizen mulai berspekulasi macam-macam dan mulai teori cocoklogi dengan kehidupannya. Meskipun di Indonesia tidak ada paksaan dari pemerintah ataupun aturan yang mengharuskan setiap rumah tangga harus memiliki keturunan, tapi pernyataannya tidak diterima oleh sebagian netizen. 

Lanjut, keputusannya untuk memilih Childfree dianggap bukan keputusan sepihak, melainkan atas persetujuan suami dan keluarga besar pun setuju. Tentu semua itu telah di pikirkan matang-matang baik buruknya. Lalu pendapatku? Ya jelas tidak penting. Wong aku bagian dari netizen yang kalau di pikir-pikir lagi, "iya sih itu kan kehidupan pribadinya, tidak berpengaruh di aku. Mungkin berpengaruh di sebagian followernya yang menganggap bahwa pernyatannya itu ada benarnya. Sekali lagi, mungkin ya

Sebagai sesama perempuan, aku cukup menghargai setiap keputusan yang dia ambil, toh itu hidup dia, dia yang menjalani dan dia yang merasakan. Dipikiranku, oh mungkin didikan masa kecilnya berpengaruh dengan keputusannya ini, itu yang di utarakannya untuk menjawab setiap "kenapa?" yang di tanyakan netizen bahkan orang-orang sekelilingnya. Mungkin juga ada alasan lain yang menurutnya tak perlu dibagikan ke khalayak ramai. So, Judge pilihan dia saat itu tidak aku lakukan. Kami sama-sama perempuan yang memiliki persepsi sendiri ketika menjadi istri. Lah keresahannya dimana klo aku oke-oke bae? Haha      

Tanpa Anak Anti Aging Alami?

Belum sampai di situ, beberapa waktu lalu, ada ketikan darinya yang dengan cepat ter highlight akun gosip dan akun-akun lambe-lambe lainnya. Isinya adalah, Dia mengangap dengan tidak memilik anak, membuatnya bisa tidur selama 8 jam sehari, bebas dari teriakan anak-anak dirumah yang membuat stress bahkan bisa melakukan botox saat wajah mulai keriput dan nampak awet muda karena memiliki cukup uang. Nah ini yang mungkin agak frontal dan judgment terhadap ibu-ibu diluar sana yang memiliki anak ataupun banyak anak, namun hidup yang dia jalani padahal happy-happy aja dan tidak seperti yang dia gambarkan. Itulah yang mendasari postingan ini muncul ditengah review hotel, cosmetic dan café-café lainnya yang aku kunjungi. Hehe

Banyak ibu-ibu yang memiliki anak merasa tersinggung lalu memberikan komentar mulai dari good comment hingga bad comment. Ada pula yang mulai melakukan safari masa lalunya dan menemukan sesuatu yang menarik dan masih tersedia di blog miliknya. Keinginannya adalah memiliki 2 anak yang akan dia besarkan dengan caranya. Di sini yang membuat mereka tak habis pikir, seorang influencer yang gemar menggaungkan perihal kebebasan, kesetaraan perempuan memberikan komentarnya terhadap sesama perempuan yang memiliki keturunan dengan kalimat tajam seperti itu. 

Aku yang belum menjadi ibu juga mulai terusik. Apakah anak sebeban itu baginya? Ataukah itu hanya pemikiran dia saja. Permasalahan ada di sini. Dipandang sebagai sosok yang inspiratif namun tidak selaras dengan apa yang terlontar dari mulutnya. Bukankah apa yang terucap dari mulutnya akan menjadi pedoman bagi seseorang atau segerumbulan orang yang memuja dirinya. Iya kan?

Menurutku, dia yang notabene seorang public figure, sebenarnya juga berlaku untuk semua orang. Setiap apa yang ingin dilontarkan bukankan harus di pikirkan dampak baik buruknya. Pemilihan kalimat harus diperimbangkan. Aku yakin, pasti ada yang mendukung keputusannya untuk childfree karena alasan yang melatarbelakangi. Entah takut gagal sebagai orang tua ataupun alasan lainnya yang dikuatkan dengan berbagai bukti.

Namun mengutarakan di khalayak ramai kalau anak adalah beban, penyebab tidak tidur dengan teratur, hingga childfree bisa menjadi anti aging alami. Do you belive it? Menyebalkan jika mendengar dia mengatakan demikian, aku yang belum memiliki anak dan sedang berusaha memiliki anak menganggap bahwa apa yang disampaikan bisa dibantah dengan kerjasama antar pasangan. Bisa dicarikan solusi dengan menyewa baby sister atau ART. Bisa juga dengan pembagian tugas dalam rumah tangga. Terlepas dari itu semua Childfree adalah keputusannya. Sebanyak apapun dukungan, hujatan ataupun kontraversi yang datang, aku yakin dia siap menerima itu semua. begitu ya. Semoga apa yang disampaikannya perihal memiliki keturunan ataupun lainnya tidak lagi "asal terlontar" tapi juga di pertimbangkan baik buruknya. 

Bagi ibu-ibu yang kini bergelut dengan buah hati mereka, mungkin tidurmu memang berkurang, mungkin kalian memang akan sedikit menyepelekan perihal penampilan sehingga beberapa orang mengganggap nampak berantakan, tapi aku yakin, ada kebahagiaan tersendiri ketika kalian menyaksikan buah hati  tersenyum, menyebut namamu dan berlarian memelukmu, karena bagaimanapun menjadi ibu itu sebuah sebuah keberuntungan, tidak semua orang bisa seberuntung kalian. 

Begitu juga dengan yang belum memiliki buah hati namun tidak memilih childfree, i know so well  kalian tetap menjadi pasangan serasi dan saling mendukung. Bertemu dengan kalian dengan kondisi yang saling memandang dan bergenggam tangan itu awesome. Terlepas dari nyinyiran kanan kiri yang membungkus pertanyaan - kapan ataupun sindirin- perihal keturunan, kalian terlihat sempurna dan tetap melengkapi. 

Ingat jika anak adalah pelengkap kebahagiaan, tidak mungkin ditemui pasangan yang memilih berpisah hanya karena bosan, tidak bahagia ataupun cinta mulai pudar diantara keduanya. Jika belum memiliki anak juga dianggap sebagai alasan berpisah, maka tidak mungkin menemui pasangan  bertahun lamanya berdua namun masih mesrah bahkan membuat semua mata tertuju pada mereka. Jadi, bisa di simpulkan sendiri bukan, jika bahagia bisa diciptakan dari mana saja?

Cafe Teras Tegal, Hidden Gem di puncak Brakseng, Kota Batu

cafe teras tegal

Assalammualaikum pembaca budiman!. Gimana kabarnya, baik-baik saja dan bahagia kan?. Masih nuasa tahun baru 2023 dan Imlek. Masih ada kesempatan menghabiskan waktu atau quality time bersama keluarga sebelum kembali ke rutinitas semula. Alhamdulillah. By the way minggu lalu aku berkunjung ke café yang berada di tengah perbukitan dengan pemandangan yang luar biasa menakjubkan. Bisa dikatakan café ini adalah “aksesoris” di tengah wisata alam. Tau kan ya.. wisata alam aja udah bagus, apalagi ada “aksesorisnya”. Ya ini Café Teras Tegal.

Melewati Jalur ekstrim tapi tetap mengagumkan

Café Teras Tegal, berlokasi di wilayah Sumberbrantas, Kecamatan Bumiaji, kota Batu. Lagi-lagi kota Batu menunjukkan pesonanya melalui wisata kuliner yang aku datangi kali ini. Perjalanan di tempuh melewati jalur Cangar karena memang keberangkatan dari Mojokerto dan lebih dekat dengan rumah. Nah untuk perjalanan ini bisa dibilang cukup ekstrim. FYI jalur Cangar terkenal dengan sebutan jalur dengan tanjakan yang berbahaya. Kanan kiri sepanjang jalur tersebut, kita bisa melihat pemandangan yang begitu indah serta jurang yang cukup tinggi secara bersamaan. Tanjakan Cangar cukup membuat jantung was-was. Meskipun begitu, ternyata masih banyak juga pengendara yang memilih jalur ini karena ini merupakan jalur alternatif yang menghubungkan kota Batu dan Mojokerto.

Sesampainya di gate depan sebelum memasuki area café, ada tenda/ pos yang siap menarik biaya retribusi tergantung jenis kendaraan, jika sepeda motor kamu cukup membayar 5rb sedangkan untuk mobil hanya 10rb saja. Akses menuju café ini juga cukup mudah dari pos awal. Jalan sudah di aspal, meskipun lagi-lagi harus menanjak. Hamparan perkebunan sebelum tiba di café ini, siap menyambut para pengunjung. jangan tanya lagi bagaimana, semuanya sudah sempurna.

Area cafe Teras Tegal

Terbilang masih baru dan jauh dari pemukiman, café Teras Tegal yang terletak di puncak perbukitan Brakseng ini ternyata sudah memiliki banyak pengunjung. Terbukti ketika tiba di pelataran parkir teras tegal, sudah berjejer mobil dan kendaraan roda dua. Memadukan konsep modern dan alam. Teras Tegal membuat mata siapapun terpesona karena dikeliling dengan pemandangan yang tak didapatkan di kota. Udara yang sejuk dan embun dari pegunungan yang saat itu langit sedang cerah-cerahnya menambah keelokkan tempat ini. Tak lupa pula pengunjung menyaksikan secara langsung kegiatan warga yang saat itu sedang menanam ataupun memanen sayuran.

Cocok menjadi tempat healing para kawula muda

Setibanya di sana, kondisi langit cerah, pemandangan Brakseng tampak jelas dan menyegarkan mata. Sebelum memasuki café, aku sempat memfoto beberapa spot dan suasana sekitar café ini. Tempat ini cocok untuk seseorang ingin healing  menghilangkan penat ataupun sekadar berburu spot foto dengan background panorama alam. Sungguh pemandangan di yang luar bisa, suasananya pun terasa damai, entah berapa kali aku memuji ciptaan Tuhan ini. Yang jelas Café Teras tegal seperti surga tersembunyi di kawasan Brakseng.

Dikelilingi oleh hamparan bunga hortensia dan berhektar-hektar perkebunan sayur. Tak henti-hentinya café ini memanjakan mata para pengunjungnya dengan wisata alam sekitar. Bahkan saat hujan mulai turun dan kabut perlahan menyelimuti di permukaan tanah. Bukan ketakutan yang dirasakan, justru suasana makin syahdu karena pemandangan di sana tak membuat gagal meskipun hampir tertutup kabut. Siapapun yang memutuskan untuk menikmati suasana sekitar café ini dijamin akan ingin mengulanginya kembali.

Menikmati seduhan kopi sembari menikmati view pegunungan

Fasilitas café ini juga cukup lengkap dan memadai. Toilet bersih, Musholah, lahan parkir yang luas untuk mobil atau motor. Adalagi tempat untuk berendam kaki mungkin dengan air hangat ataupun terapi ikan, entahlah, karena saat aku ke sana masih dalam perbaikkan. Selain itu, Teras Tegal juga menyediakan tempat Camp yang dibentuk secara terasiring di samping Café. Bagi kamu yang ingin menikmati suasana malam puncak Brakseng, patut mencoba camp di sana.

Area tempat duduk juga memiliki pemandangan masing-masing baik dari samping kanan, kiri, area atas ataupun area bawah. Sedangkan area pemesanan atau kasir justru lebih simpel dan tidak memakan banyak space. Menu yang di sediakan ala-ala makanan desa seperti pisang goreng, singkong, sosis, kentang ataupun jika ingin makanan berat café ini juga menyediakan.  Untuk kopi, Café ini menyediakan menu khas yakni kopi Arabika Arjuno dan Robusta Arjuno. Jika ingin non kopi, café ini juga menyediakan variasi teh dengan harga yang relatif murah. Sekitar 8 ribu rupiah kamu bisa menikmati minuman panas dengan pemandangan Gunung Arjuna dan Gunung Welirang.

Oh ya, untuk kalian yang ingin membeli hasil panen kebun di café ini dipersilahkan ya, kalian bisa membeli lombok udel yang sudah di kemas dalam kantong kresek dengan harga 20 ribu rupiah saja. Gimana tertarik gak?  Aku pastikan café ini sangat pas untuk kalian yang ingin menemukan tempat healing, jauh dari hingar bingar kota, udara sejuk dengan pemandangan yang bikin mata seger.


Hello 2023, Tahun Baru, Harapan Baru

 

tahun 2023


Assalammualaikum pembaca budiman, happy new year. Selamat menyambut tahun baru dengan suka cita. Semoga selalu di limpahi kesabaran dan ketegaran untuk setiap prolematikan yang akan terjadi di tahun ini. Tahun baru, target baru, impian baru, kekuatan baru betul begitu ya..

Kenapa tidak mengharapkan kebahagiaan tiada putus? 

Jadi gini, versiku kebahagiaan itu bukan hanya diharapkan, tapi kalau bisa diciptakan. Bisa dari hal kecil hingga yang kadang diluar ekspetasi kita sendiri. Karena kadang hidup tak selalu sama seperti yang kita inginkan bukan? So, I wish always dilimpahi kesabaran dan ketegaran dan bisa menciptakan kebahagian di tengah-tengah kedua harapanku tadi. Duh bisa aja ngelesnya.. Hehe.

Aku penasaran apakah tahun ini berjalan seperti hari-hari sebelumnya. Seperti 1 Januari 2022 yang terlewat begitu saja, atau 31 Desember 2022 kemarin, yang di rayakan dengan keluarga inti, sembari menikmati ubi madu panggang buatan sendiri yang jadi rebutan penghuni rumah sini. Aku harap akan ada hal sangat aku tunggu-tunggu menyapa di tahun ini. Menjalani 2022 dengan segala rasa yang menyertai cukup menguras emosi ternyata. Belum lagi adanya penghakiman yang terlontar dari orang lain yang tak tau apa-apa tapi giat menebar duri hingga tertancap di dada. Ingin marah tapi rasanya percuma, justru aku akan mirip dia hanya banyak bicara dan judge kesana kemari tanpa tau musababnya. jangan ah.. Semoga aku berbeda.

Bagaimana dengan hari-hari di 2022?

Menjadi baik-baik saja sepanjang tahun 2022 sulit ya ternyata? Ada rasa kecewa, ada pula putus asa. Kelelahan, dongeng, drama tahun lalu silih berganti. Tak selalu sih, karena ada moment bahagia yang juga datang dengan sendirinya ataupun direncanakan bagaimana alurnya. Kembali lagi, hidup memang tak selalu seperti yang kita inginkan, ada pembelajaran setiap tarikan nafasnya. Alhasil mantra andalan menyemangati diri sendiri sering terucap berkali-kali. Yaa.. begitulah menjalani 2022 semuanya epic " ternyata aku kuat juga yaa" begitu bisikku pada diri sendiri.

baca juga: ibu rumah tangga juga sibuk berkarir

Kini 2023 sudah terlaksananya, setidaknya 5/365 hari sudah berjalan dengan damai tanpa menyebabkan perkara apa-apa. Alhamdulillah. Meskipun masih bergelut dengan pandemi yang entah kapan akan berakhir secara resmi, semoga tidak ada kehilangan lagi seperti kebanyakan tahun lalu dan tahun-tahun sebelumnya. Kehilangan itu menyakitkan, apalagi kehilangan orang yang kita sayang dan sering menoreh kenangan. Jangan ya..Awal tahun hingga akhir tahun nanti, semoga kebahagiaan selalu berlimpah meskipun kesedihan sesekali menyapa.

Wacana di tahun baru dan sepanjang tahun 2023

Tahun baru, sejarah baru, achieved baru. Ada banyak wacana dan rencana yang telah aku susun dalam benak, yang setidaknya ingin aku wujudkan di tahun 2023 ini. Salah satunya rencana untuk naik cetak buku dengan judul dan konten yang aku garap sendiri. Ternyata keinginan bertahun-tahun lalu belum padam juga meskipun udah di tolak penerbit berkali-kali. Revisi pun juga tak terhitung jumlahnya. Ingin menyerah dan terima takdir kalau tak bisa jadi penulis andalan tapi kok aku gak terima. Aku masih berpikir jika aku mampu untuk menjadi salah satu jejeran penulis yang kompeten dan naskahnya naik cetak serta karyanya  bisa di pajang di deretan buku best seller. Amiin. 

Memutuskan untuk berkutat dengan tulisan dan penerbit mayor, aku juga harus siap menerima penolakan (lagi). Awal mula mengirim naskah tanpa babibu, aku  langsung ke penerbit mayor. Dan saat itu aku harus menunggu 3-6 bulan untuk mendapatkan jawabannya. Sayangnya naskahku di tolak. Sedih? Tentu, tapi hal itu tak membuatku terpuruk karena ada beberapa penerbit mayor lainnya yang mungkin akan menerima naskahku. Untuk ke kedua hingga ke empat kalinya aku mengalami penolakkan lagi dan lagi. Hal itu membuat nyaliku ciut dan memutuskan untuk rehat sejenak. Namun rehat itu ternyata membuatku lalai. Hehe 

Berkutan dengan kegagalan berkali-kali

Kenapa memilih mayor, kenapa gak coba minor? Sejujurnya aku pernah mencoba mengirimkan naskah di penerbit minor, mungkin sekedar melombakan hasil karya secara iseng, alhamdulillah 3 dari karyaku naik cetak. Lalu aku challenge diriku sendiri untuk masuk ke dapur penerbit mayor. Sayangnya aku menemukan jalan buntu.

Kini, aku kembali menyiapkan mental melanjutkan mimpiku. Menyiapkan banyak hal termasuk penolakkan  nantinya dan kembali merevisi apa yang perlu aku revisi. Sebegitunya ya. Hehe. Yang jelas, aku masih ingin berusaha untuk bisa di barisan depan, yang karyanya jadi legenda di dunia percetakkan.

Review - Wizz Mie, Restoran Kekinian Yang Lagi Viral Di Surabaya

wizz mie  viral

Assalammualaikum pembaca budiman. Selamat menjalani sisa-sisa hari terakhir di bulan dan tahun 2022 ini. Semoga wish list di tahun ini perlahan-lahan sudah muncul di permukaan dan list to do untuk rencana kedepan sudah tersusun rapi dan tinggal eksekusi. Aminin bareng-bareng yok!

Akhirnya ada artikel yang aku upload di bulan yang indah ini. Sempet khawatir sebetulnya, apa aku ada bahan untuk artikel selanjutnya. Haha tapi akhirnya, aku menemukan pencerahan so, here we go…

Salah satu hal yang ingin aku jajal dan masuk wish list adalah nongkrong di salah satu café ataupun restoran kekinian. Dengan harga makanan relatif murah, makanannya enak, konsepnya bagus dan dapat dijangkau sewaktu-waktu. Paket lengkap gak tuh? Hehe.

Grand Opening Selalu Rame Ya?

Btw, serius tanya ada gak sih dari kalian yang antusias menyaksikan ataupun datang langsung di Grand Opening (GO) sejenis kedai ataupun restoran,. Dan di sana, kalian gak langsung dilayani, tapi harus rela antri berjam-jam karena ada paket diskon ataupun suasana baru yang digagas. Padahal sejatinya itu menu  yang dijual sama antara kedai a dan b, masih tetap aja memutuskan datang ke café yang sedang GO itu. Dengan alasan ya itu tadi karena ada suasana baru dan lebih fresh, ada kan ya orang di line seperti itu?. Kebanyakkan saat ini memang cafe dan lebih menjual konsep daripada makanan itu sendiri and well accepted meskipun gak semuanya. 

Baca juga : Nongkrong Asyik, di Tropical Coffee Surabaya

Aku sebut itu sebagai the power of Grand Opening, tentunya banyak promo saat GO itu berlangsung. Pastinya disediakan paket bundling yang lebih menggairahkan ketimbang brand-brand lama dengan menu serupa. Mulai dari packaging, themes ,sounding dari influencer yang menggunakan kalimat hiperbola, dan yang terakhir marketing gratis dari mulut ke mulut  teman ataupun kerabat hingga membuat restoran itu pun rame di kunjungi. Keingin tahuan itu, akhinya sefrekruensi dengan apa yang akan aku bahas kali ini

Jadi gini, sekitar bulan Juli lalu, ketika akan pulang menuju Mojokerto dari Surabaya dan melewati area Praban. Aku menemukan sebuah tempat yang saat itu rame dengan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Begitu pun dengan orang yang lalu Lalang keluar masuk dari tempat tersebut. By the way tempat tersebut juga eye cathing dengan konsep full color plus mencolok karena memang penempatan cahaya itu attractive menurutku, jadi mau tak mau, ada rasa penasaran untuk tahu ataupun sekedar melirik.

Sayangnya, karena terbatas waktu jadi aku urungkan singgah ataupun mengamati apa sih yang sebenarnya ditawarkan di dalam. Hehe, tapi setelah sekian purnama ditambah banyaknya berseliweran di FYP sosmed ternyata menggerakkan hatiku untuk segera berkunjung ketempat yang bikin petcah suasana ini.  Rasa penasaran itu terbayar. Aku dan Mas Bojo menyempatkan diri untuk mampir ketempat yang sedang viral tersebut- Wizz Mie namanya, lokasi persisnya di jalan raya Jemursari no. 319.

Setibanya di depan Whizz Mie, langkah pertama yang bikin syulit adalah mencari tempat parkir untuk mobil. Haha, meskipun disediakan tempat parkir lebih tepatnya motor, untuk mobil masih sangat minim, harus jeli untuk liat space mana yang sekiranya kosong karena posisi tempat makan ini pinggiran jalan raya. Alhasil karena sekitar resto penuh, aku harus nebeng parkir di ruko yang tak jauh dari resto itu berdiri.

Konsep yang Diusung Berbeda dengan Resto Mie lainnya

Tampak dari luar sebenarnya restoran ini sudah kelihatan jika tempatnya homey banget, interior yang digunakan vintage modern dengan maskot yang identik dengan gaya retro 70 atau 80-an. Begitu melangkahkan kaki memasuki teras resto dan karena harus order mie dulu di cashier depan, aku udah bisa liat kalau tempatnya luas. Tersedia tempat duduk outdoor dan semi outdoor. adapula yang tempat duduk permanen yang ditengah area outdoor. Gak perlu panik jika tidak kebagian tempat duduk karena memang tempat ini cukup luas dan nyaman untuk digunakan sebagai tempat nongkrong dewasa muda. Untuk proses pembuatan makanannya, bisa di bilang Wizz Mie ini pembuatannya serba semi transparan, hampir sama dengan konsep cafe mie sejenis sih, tapi anehnya entah kenapa dapur dari Wizz Mee ini kelihatan luas banget, mungkin karena penataaanya yaa dan lagi kita bisa melihat pergerakan para pegawainya ketika sedang membuat pesanan setiap customer dari sudut manapun.  

Lanjut, oh ya aku belum info Wizz Mie ini menu utamanya adalah Mie pedas. Sebenarnya konsep mie pedas ini sudah tersedia dari beberapa tahun lalu dan adab banyak tempat F&B yang menjual mie serupa dengan penamaan kurang lebih mengarah ke nyeleneh, kalian pasti tau kan kalau nama mie dengan konsep per”setan-an” sudah menjamur di Indonesia.

Variasi Menu Wizz Mie 


Sedangkan Wizz Mie meskipun core menu nya adalah mie pedas, tetapi dia memilih menggunakan nama-nama menu yang menurutku lain daripada yang lain, misalnya  Mie Goyang – Mie pedas goreng kecap, Mie Disko – Mie pedas goreng gurih dan Mie Manja – Mie Goreng dengan bumbu original untuk tingkat kepedasan kalian bisa pilih dari level 1, hingga 5, khusus untuk Mie Goyang dan Mie Disko level kepedasan berbeda ya,  kalian juga bisa menambahkan telur mata sapi sesuai yang tertera di papan menu 

Wizz Mie juga memiliki menu yang gak kalah enak dari menu utama, ada Rice Bowl, Genk Sushi, Genk Dimsum, Ice Bar dan Genk Frape, Jackpotnya lagi mereka juga menyediakan menu Gelato yang dijual secara terpisah dari kasir utama dengan harga yang lumayan murah. Kebetulan karena aku suka jenis mie yang gurih-gurih manis gitu, jadi aku pesan Mie Goyang level 2 (dengan 10 cabe) sedangkan Mas Bojo Mie Disko level 1 (dengan 10 cabe) untuk beveragenya aku memesan Ice Red Velvet dan Ice Mocca, untuk additional, aku memesan Udang Rambutan dan Sushi sayangnya untuk sushi tak terfoto. Hehe 

Jujurly, untuk rasa mie ini sesuai selera, pas banget, mie-nya kenyal. Pedas gurihnya nendang, kok kayak hiperbola yak. Haha, but that’s true, seriusan se-enak itu aku menjabarkan setiap gigitan dan catet ini no endorse ya, sejauh aku ke sana setiap menu yang aku pesan aku beli sendiri. Haha. Yuk monggo Wizz Mie ngasih endorse sini. Hehe. Seriusan aku ketagihan untuk mencoba, per-mie-an selain Mie Gacoan yang udah banyak di review oleh temen-temen blogger.

Hal yang bikin aku kagum setelah mie masuk ke mulut adalah dari segi pelayanannya ketangkasan para pegawai. Untuk waktu tunggu dari order sampai mie siap di santap itu emang gak cepet, tapi juga gak lama just so-so lah ya, tapi uniknya senangkepnya mataku, setiap pelayanan yang membawakan pesanan customer, mereka berjalan dengan speed yang menurutku gak normal sangking cepatnya. Hehe. Padahal apa yang mereka bawa itu gak sedikit tapi mereka bisa balance untuk mengantarkan ke setiap meja tanpa melakukan kesalahan. Salut deh, restoran begini yang aku demen. 

Fasilitas yang di sediakan di Wizz Mie juga lengkap. Toliet dan Musholah cukup memadai. Kalau kamu ke sana secara grupies jangan khawatir gak ada tempat, selalu ada kok, dengan bantuan pegawai atau kamu bisa melakukan reservasi dulu sebelum ke sana. Begitu ya.. sekali lagi aku info kalau tempatnya ini lumayan luas gak usah panik di usir. Haha. Kelihatan kalau pengalaman yak pernah di usir, tapi tenang bukan di Wizz Mie kok. Hehe. Di Surabaya Wizz ternyata sudah memiliki 3 cabang, 1 di Jemursari yang aku singgahi ini, 2 di Lidah Wetan dan terakhir di Rungkut yang juga baru saja di resmikan tanggal pembukaannya.

Over all, aku dan Mas Bojo puas dengan apa yang disajikan Wizz Mie. Sepaket orang yang gemar safari kulineran murah tapi juga bisa dilakukan berulang. Hehe. Baik dari segi harga, rasa, varian, fasilitas bahkan pelayanan semuanya patut diacungi jempol 4. Semoga ke depannya selalu seperti ini deh dan ada cabang-cabang lain beberapa kota. Kalian penasaran gak sih, kalau lewat area-area di mana Wizz Mie ini berdiri tak pernah sepi pengunjung, cus deh mampir dan rasakan, aku jamin bakalan ketagihan.