Review Hotel : Malam Singkat di Whiz Hotel Malang

review whiz hotel malang

Assalammualaikum pembaca budiman, I’m back!. Bismillah semoga niat menulis blog gak dong-dongan lagi. Ya walaupun ini sudah mendekati akhir bulan November dan baru 2 artikel dong yang di up. Mengsedih sekali sih. tapi gak apa-apa semangat untuk bisa up artikel terossss pokoknya niat gitu ya headline-nya. 

Btw, aku mau sharing staycation terakhir nih. Haha. Sejujurnya ini juga bukan website travelling atau fokus staycation sih, nichenya juga masih gado-gado, masih belum terpusat untuk satu niche khusus. Kebetulan saat itu aku sedang di luar kota jadi kenapa gak sekalian dibuat kisah, even sederhana, tapi menurutku perlu di share, yuk yaa.. yuk!! dah ah lanjut. 

Anyway meskipun covid belum benar-benar punah, setidaknya untuk keluar kota gak di riwehi dengan drama PCR, Antigen dan kawan-kawannya, tapi jangan keblinger yaak, tetap jaga diri baik-baik, hand sanitizer harus siap sedia. Masker ada baiknya masih digunakan kalau lagi keluar rumah. Okay?!

Well, lanjut yuk ceritanya lagi ya. Hotel yang aku inapi kali ini adalah Whiz Prime Malang. Malang lagi. Malang lagi? Hehe. Keseringan review Malang ya? Kalian jangan bosen ya. Malang ini seru kok meskipun di akhir tahun ini lebih sering hujan daripada panas tapi masih menarik untuk dijadikan alternatif untuk tempat wisata ataupun hanya sekedar staycation, banyak hotel baru juga yang yang konsepnya macem-macem, vintage iya, modern iya, green hotel juga iya. Banyaklah. Berjejer pula café dengan konsep macem-macem yang menarik minat untuk di kunjungi jadi yuk explore Malang lagi.

Berkesempatan stay selama semalam, aku tidak menyia-nyiakan untuk tidak mereview dong. So, hotel Whiz Prime Malang ini lokasinya tengah kota yang mudah sekali diakses dengan berbagai alat transportasi. Dekat dengan berbagai wisata kuliner pagi dan malam hari, jadi gak perlu panik kalau lapar malam-malam deh tuh. Dari luar saja,hotel ini terkesan mewah dan ketika pertama kali menginjakkan kaki di hotel, para petugas yang berjaga di depan hotel siap sedia membukakan pintu. Oke Pelayanan ramah di garis depan.

Memasuki area meja reseptionis, aku disambut oleh 2 petugas front office . Setelah menyebutkan nama reservasi lalu menyerahkan id card plus deposit sebesar 50rb. Sembari menunggu proses check in, aku memutar pandangan sekeliling dan menemukan 2 ruang tunggu dengan sofa berwarna abu-abu gelap dan bantal sofa berwarna hijau dan putih.


Area lobby hotel Whiz  cukup luas bahkan terdapat Kids zone mini serta di sediakan tempat refleksi bagi para tamu yang ingin menggunakan jasa pijat tersebut, tentunya berbayar ya.  Lalu, disediakan pula welcome drink yang saat itu ada teh tarik hangat self service. Menariknya, ada spot kecil  yang letaknya berada di sisi kiri meja reseptionis yang digunakan sebagai kios untuk berjualan aksesoris khas Malang seperti: kaos Malangan, topi, makanan khas Malang dan gantungan kunci dan lainnya.


Setelah lift terbuka, aku menuju lantai 5 dimana kamar yang telah di pesan atas nama suami berada. Card detector di tempel, kamar terbuka dan tara satu ranjang besar dengan sprei dan bantal berwarna putih nyaman dipandang siap digunakan rebahan. Saatnya jepret-jepret kamar sebelum diacak-acak dan di timpa barang bawaan. Hehe. Cek satu persatu apa yang ada dikamar. Sayangnya, view dari kamar ini loteng warga, jadi gak banyak pemandangan yang bisa di deskripsikan. Hehe

Fasilitas Whiz Primer Malang 

Saatnya spil fasilitas kamar. Menurutku kamar Whiz ini cukup luas, Ada TV berukuran 32 inchi yang menempel di dinding kamar dengan pilihan beberapa program siaran luar, Safety box atau brankas, Wifi, AC yang cukup dingin, amneties lengkap dengan teko pemanas. untuk tempat penyimpanan baju seperti lemari tertutup atau tempat kope gak ada sih, tapi disediakan tempat untuk menggantung baju. Mini bar ambalan yang juga bisa di fungsikan sebagai meja kerja, posisinya dekat dengan jendela.



Ada hal menarik yang wajib untuk di ceritakan, ranjang hotel Whiz Prime ini nyaman banget – Angler merk yang digunakan. Jujurly, baru kali ini aku mendapatkan ranjang yang super enak di punggung diantara hotel-hotel lainnya, versiku ya. underline biar gak salah paham. Hehe. Ranjangnya gak begitu empuk, tapi padat dan enggak buat punggung rontok. So, untuk ranjang di Whiz Prime hotel Malang ini aku kasih jempol 10. 


Toiletries juga cukup lengkap, masing-masing untuk 2 orang. handuk, sandal, shower cap, sikat gigi dan plastik bag. Wastafel berada di luar kamar mandi, jadi posisi wastafel ini berada di sebelah kiri setelah pintu masuk dan berhadapan dengan pintu kamar mandi. Ngomong-ngomong soal kamar mandi. Sekat antara si kamar mandi dengan  ranjang hanya full kaca tebal dong atau transparan dari luar. Ku ulangi sekali lagi, hanya di sekat dengan kaca tebal. Haha, tapi jangan khawatir, masih ada gerai yang bisa dinaik turunkan kok kalau kalian menginap dengan partner kerja ya.


Sarapan pagi. Hal yang paling aku sukai ketika review hotel. Serius ya pembaca budiman, restoran Whiz Prime hotel ini all out ketika menyajikan makanan. Bener-bener deh hotel ini. Dari makanan trasional hingga barat semuanya ada. Rasanya pun gak kaleng-kaleng. Mantap bener. Nanti akan aku insert beberapa tangkapan layar menu yang aku nikmati. selebihnya lupa, tapi dipastikan hampir seluruhnya aku incip hehe. 




Beberapa kali aku juga mendengar tamu lainnya memuji variasi makanan yang disajikan. Soal makanan aku highly recommended restoran di hotel ini. Area restoran juga cukup luas. Satu ruangan terpisah yang hanya digunakan sebagai meja makan dengan menikmati pemandangan area hotel dari lantai 6By the way, hotel ini juga dilengkapi kolam renang ternyata. Aku baru tau dong. Haha. Untung sempat jalan-jalan mengitari hotel sebelum rebahan di kamar lagi. Kolam renang berada di lantai 6, satu lantai dengan restoran, namun hanya di buka mulai pukul 10.00 WIB s/d 21.00 WIB. Atau bisa dikatakan setelah jam makan pagi usai. area jakuzi sekitar kolam renang juga dibuat nyaman, dengan tema nuansa Bali. Gak perlu renang, cukup kerja diarea terbuka seperti itu aja sudah senang.



 


Kalian pasti penasaran, berapa sih harga hotelnya permalam, ya kan ya? Ngakulah biar aku seneng. Hehe, kalau aku cek di situs booking hotel mayan sih untuk hotel bintang 3 yang berapa di tengah kota Malang sekitar 500rb-an sudah termasuk dengan sarapan pagi, yang seperti aku sebutkan tadi, sarapananya nendang. Seharusnya , harga itu lebih murah daripada kalian goshow booking via hotel (duh ya, lawas kali ah).

Seperti yang aku info di awal, Whiz Prime hotel Malang ini berada ditengah kota yang dikeliling dengan public space. Mini market, Bank, taman kota, dan masih banyak lagi. So far, menyenangkan kok tinggal di sana, hanya saja maybe I’m lack of connections Entah kenapa wifi Whiz Prime hotel hanya kencang saat aku berada di area restoran. sedangkan aku harus membuka leptop di kamar karena pekerjaan. Berapa kali memanggil pihak engineering tapi tiada hasil, coba kasih komentar kalian gitu gak sih?. yaudah aku putuskan untuk stay sementara di area resto.  Next Wifi harus bisa lebih kenceng lagi nih. PR ya tim management Whiz Prime Hotel. Haha. Selebihnya oke kok, pelayanananya ramah dan karyawanannya memuaskan kok.

Kesibukan Baru - Work Full From Home


 Assalammualaikum pembaca budiman!. Long time enggak menyapa lewat tulisan ya. Lagi dan lagi kesibukan menyita kegiatan menulisku. Padahal awal-awal setelah ketok palu untuk membuat domain atas nama sendiri niatnya akan buat tulisan minimal seminggu sekali. Dan akan dilakukan meskipun dalam keadaan benar-benar sibuk. Nahas itu hanya ucapan, ketidakonsistensian membuatku meragukan jiwa kepenulisanku sendiri, apa iya bisa di sebut penulis kalau kayak gini kelakuannya. WKWKWK apasih alay bener.

Taraaaa sudah bulan November aja, berarti sudah di penghujung tahun 2022 nih. Dari sisiku ternyata banyak wist list yang masih otw di perjuangkan dan ada pula yang masih jauh dari angan. Gak apa-apa mungkin sebentar lagi kecapai, ya kan ya?. mohon doanya. Kalau kalian bagaimana, sudah runut, atau sama kayak aku tercecer?. Hehe

Sekedar FYI ya pembaca budiman. Bisa dikatakan saat ini aku full menjadi pekerja (lagi), istilahnya work full from home. Hehe. Kok full home? Emang bener begitu keadaanya. Aku menjadi pekerja yang separuh terikat separuh lepas. Tapi office hours-nya jelas. Haha. Kebetulan tempat kerjaku sekarang tidak mengharuskan aku face off dalam ruangan dan bertemu setiap hari jadi seperti ada kelonggaran dibandingkan dengan pekerja-pekerjaa sebelumnya. Itu pula yang menjadi pertimbanganku kenapa aku menerima pekerjaan ini.

 Anyway, tempatku bekerja sekarang bersarang di wilayah Bekasi tapi aku tetap stay di Mojokerto, namanya juga Work From Home. Hehe. Bergerak di bidang sport nutristions. Kebetulan aku yang bagian urus pasar digitalnya. Tahu kan ya? Istilah E-commerce kayak Tokopedia, Shopee, Blibli, Lazada dan lain-lainnya, nah itu aku yang harus urus.  Setidaknya ada pengalaman yang aku punya dari tempat kerja sebelum-sebelumnya lalu diaplikasikan ke tempat baru ini dengan berbagai perkembangan yang ada.

Senang dong sekarang ada kesibukan yang bisa dijadikan rutinitas. tapi juga spaneng karena banyak hal yang harus di urus. Haha no offense kok. Tetap bersyukur karena ada kegiatan yang ajeg dan terpenting berpenghasilan rutin. Kini setiap hari aku harus membuka leptop, brain storming menentukan next plan supaya engagement brand naik, Gmeet setiap hari membahas list to do today, belum lagi membuat caption untuk feed instagram. Jadi kayak otak itu gak berhenti berpikir untuk cari ide ataupun inspirasi. Gitu kan dulu pengennya meskipun udah jadi ibu rumah tangga. Oke cocok nih!

Lalu usaha yang ada di rumah? Tenang tetap jalan kok. Mendapatkan pekerjaan baru tidak serta merta membuat aku melupakan usahaku begitu saja. Jujur mungkin saat ini bisa dikatakan kelabakan dengan ritme waktunya, tapi masih tetap aku pegang dan aku rawat kok. Orderan jalan, kerjaan lancar meskipun ada hal-hal yang harus di rubah urutannya. Sebisa mungkin harus jalan secara balance keduanya.

Lanjut, kesibukan baru ini pula yang membuatku sekarang sangat jarang untuk membuat tulisan. Entah aku yang sudah tidak memiliki waktu dengan leptopku ini perihal personal life atau karna aku sudah malas untuk membuka Ms word dan memulai sebuah kalimat karena sangking lelahnya berpikir (Halah). Ada aja kalau cari alasan. Hehe

Maafkan aku yang pembaca budiman, tidak bisa memenuhi hasrat membaca kalian. Kuharap kalian tidak berpaling dari websiteku ini. Intinya, aku masih berusaha untuk tetap update tulisan dalam website yang aku bangga-banggakan ini dan virtual keep in touch, ya kali mau di anggurin kan sayang ya .. berbayar loh. Hehe

Well, cukup sampai di sini aja ya penjelasannya. See you untuk next artikel.

Jogjakarta Dalam Satu Hari

Assalammualaikum pembaca budiman. Pengen kayak pujangga lagi nih “Berkunjungnya sebentar tapi

kenangannya tak mau cepat pudar” Asekk. Hehe. lama juga ya gak main-main dengan kata-kata syahdu gini, Jadi rindu! next deh kalau niat banget itu muncul. 

Lanjut cerita travelling kemarin yuk. Yang itu loh, cerita dari artikel beberapa waktu lalu tentang merasakan menjadi warga solo sementara. Jadi, selama di Solo aku berpikir kenapa gak sekalian jalan-jalan ke Jogja dengan kereta, toh ya mumpung di sana ada adek dan kereta Solo-Jogja juga lumayan murah, kalau di banding perjalanan menuju Mojokerto - Jogja , better begini lah .  And Here we go!

Keribetan Proses Check In KRL Solo - Jogja

KRL Solo-Jogja

Tibalah waktunya aku pergi ke Jogja setelah empat hari tinggal di Solo. Setelah sarapan dan menyediakan outfit of the day, kami bergegas menuju stasiun Solo Balapan dengan transportasi online. Drama di mulai setibanya di stasiun. Jadi, karena ini pertama kali aku dan adekku menggunakan KRL. Kami sempat kebinggungan untuk memulai alur menaiki kereta tersebut. Setibanya di lantai dua, khusus untuk jalur KRL petugas loket info jika pengisian e-money dengan menggunakan kartu indomaret masih belum bisa, jika ingin tetap melakukan isi ulang bisa langsung datang ke indomaret, karena waktunya mepet kami ditawari opsi kedua, kami bisa membeli kartu baru seharga 38k dengan saldo 10k, atau jika tidak berkenan, bisa menggunakan e-wallet Link Aja. Sebenarnya menggunakan aplikasi tersebut paling mudah menurutku, tinggal tap di gate kereta KRL nanti. Oke! Kami memilih turun ke gate kereta dan check in dengan tap menggunakan e-wallet saja. Anyway untuk harga peron KRL ini 8k aja ya. Murah kan?. tapi alurnya bikin pusing. Hehe 

Selepas tab e-wallet di gate sistem, ternyata satu akun hanya untuk satu orang. Baiklah karena yang punya Link Aja hanya aku, akhirnya adekku segera download aplikasinya. Setelah ter-download dan terisi saldo barulah kami bisa lolos check -in.  Pikirku begitu, tapi kenyataannya beberapa kali ngetap dengan hape, entah kenapa rumit sekali, yang gak terdeteksi lah, signal ngadat lah. duh .. syulit, tapi dengan banyak kesabaran akhirnya kami masuk kereta KRL. Keretanya nyaman tidak penuh sesak. Tempat duduknya pun memanjang dan berhadap-hadapan. Hampir penuh karena banyak yang ternyata turun dengan tujuan Jogjakarta.

Setibanya di stasiun Tugu Jogja pun sebelum keluar ada gate khusus untuk para penumpang di harap scan log out aplikasi ataupun tab e-money yang menandakan jika penumpang sudah keluar dari stasiun.  Sejauh pengalamanku menggunakan kereta, hanya di KRL ini, aku harus tap check in dan check out, emang gitu ya aturannya?

Baca Juga:  Jogja 3D2N - Dari Tamanari ke Yamie Panda Taman Siswa

Well, untuk mempermudah transportasi saat di sana, aku memutuskan untuk menyewa motor, toh ya ini hanya kegiatan tak sampai satu hari penuh, motor jenis beat tahun 2019 di harga 75k dengan persediaan bensin 3 bar. Oke cukuplah buat muter-muter yang gak tau kita bakalan muter kemana aja. Hehe

Rute pertama setelah janjian dengan dealer sewa motor di depan stasiun, kami memutuskan untuk kulineran sembari makan siang. Tempat makan yang ingin sekali aku kunjungi lagi setelah terakhir kali di bulan Mei lalu bersama keluarga. Yamie Panda yang ada di taman siswa. Entah kenapa tempat makan dengan tema oriental warna merah, dan mural panda yang ada di dinding dalam resto ini sangat melekat di benak. Selain karna tempatnya yang nyaman, menu yang disajikan juga enak, itu sebabnya aku memasukkan Yamie Panda sebagai wish list kuliner di sini.

Lanjut, tempat yang ingin kami kunjungi adalah Tempo Gelato. Kedai Gelato yang menjadi tempat impian adekku ini sukses membuat siapaun terpana ketika mulai membuka pintu di tempat tersebut. Masuk lokasinya, widih bener-bener keren. Betah di sana walau hanya menghabiskan uang 30k untuk menikmati cone gelato 2 rasa dengan porsi yang menurutku itu lumayan. Gelatonya enak, tempatnya pun instagramable. Hehe Cukup puas dengan beberapa kali take foto di sana, kami memutuskan untuk lanjut ke destinasi selanjutnya.

tempo gelato jogja

tempo gelato jogja

tempo gelato jogja

Jalan-jalan ke Jogjakarta, rasanya gak afdol kalau enggak ke Mallioboro. Mampir sebentar ke masjid agung Jogja yang berada di Mallioboro untuk sholat dhuhur, kami melanjutkan dengan duduk cantik di kursi yang di sediakan di trotoar sepanjang jalan Mallioboro. Melihat sekeliling area Mallioboro banyak yang berubah ternyata, dulu selalu riuh dan sesak ketika banyak pedagang kali lima di selazar toko Mallioboro menawarkan barang dagangannya, kini, semuanya telah berpindah ke tempat yang dinamakan Teras Mallioboro. Namun Mallioboro kini nampak tertata rapi. Gerai Mallioboro yang dulu tak terlihat gara-gara tertutup dengan pedagang kaki lima, kini menampakkan kemolekkannya dengan lampu warna-warni.

Setelah cukup puas mengumpulkan tenaga. Aku yang dulu sempat menyesal tidak foto di tempat dengan tulisan Jl Mallioboro, kali ini aku berencana mengabadikannya. Haha. Beberapa take foto dengan hasil yang lumayan membuatku tersenyum puas. Setelahnya, karena ingin foto dengan background Bank Indonesia, Pos Indonesia dan Bank BNI di ujung Mallioboro, aku dan adekku memutuskan untuk berjalan dari tempat kami berada menuju ujung Mallioboro sebelah utara. Sesungguhnya itu adalah kesalahan yang menurutku fatal. Kwkwk 

Kupikir, jarak tempuh ke ujung Mallioboro dekat, ternyata cukup membuat kaki linu karena terlampau jauh. Haha. Mungkin karena kami jarang berolahraga, jadi jalan dari salazar Teras Mallioboro ke ujung Mallioboro terengah-engah. Berhubung di sana cuaca masih terik, karena jam menunjukkan pukul 2 siang, jadi tidak banyak pengunjung yang datang meskipun beberapa kali kami menemukan turis bersliweran. Lagi-lagi kumpulan foto sudah cukup diabadikan dan dijadikan story sampai beberapa bulan ke depan. Lanjut!

Seperti kebanyakan orang, kami sangat excited jika itu menuju tempat yang ingin kami datangi dan sangat malas ketika kami harus kembali ke parkiran motor. Sekali lagi, jarak menjadikan kaki kami yang linu-linu ini memohon untuk ngaso tempat yang di sediakan beberapa saat. Memberikan motivasi “kapan lagi kayak gini” ternyata masih belum cukup menghilangkan rasa lelah karena berjalan jauh. Okelah semangat, karena selanjutnya kami berencana untuk membeli oleh-oleh khas Jogja dan makan malam. Untuk makan malam, aku berencana membeli Gudeg Yuk Djum, sayangnya si adek tidak suka dengan makanan yang terlalu manis menurutnya. Dan lagi, karena dulu sempat kena prank makan di emperan Mallioboro dengan harga fantastis, akhirnya dia memilih untuk membeli Mcdonals sedangkan aku sekali gudeg tetap gudeg. Hahah. Yaealah jauh-jauh makannya begitu, tapi yaudalah ya, namanya juga pengen, kan Gudeg khas Jogja yaa.

Mengingat masih ada waktu 3 jam dan saat itu masih pukul 4 sore, rencana kami akan menuju Tugu Jogja, sekali lagi, ke Jogja enggak datang ke tempat iconic itu sangat disayangkan. Tetapi, karena cuaca saat itu diselimuti awan gelap lalu tiba-tiba hujan dengan volume yang cukup bikin gak nyaman, kami mengurungkan niat tersebut dan memilih kembali ke stasiun dan itu tandanya kami harus mengembalikan sewa montor yang seharusnya masih bisa kami gunakan sampai jam 7 malam. Rasanya memang kurang sih maennya. Jogja dalam satu hari dengan kondisi seperti itu memang sangat kurang, sayang juga biaya sewa motornya, tau gitu kemana-mana bisa naik transportasi umum aja lebih hemat. Haha.

Hidupmu Ya Hidupmu, Hidup Mereka Bukan Standartmu

hidupmu ya hidupmu hidup mereka bukan standartmu

Assalammualaikum pembaca budiman!. Sedang apa hari ini? Pasti sudah melakukan hal yang baik kan?. Sudah bulan -ber aja sekarang. Mendekati akhir tahun nih achievement pasti hampir semuanya gol kan ya? atau ada yang masih struggle?, gak apa-apa, setiap orang punya timing masing-masing, semangat yaa!. Yuk cerita-cerita di sini. 

Deep breath dulu, atur nafas lalu mulai membaca pelan-pelan artikel ini dan diresapi. Disclaimer ya, tidak ada unsur yang gimana-gimana terkait postingan ini. Sepeti biasa hanya ingin menyampaikan satu kebaikan versiku dan dengan caraku. Apalagi kalau bukan dengan menulis. Setidaknya bagi yang suka membaca tulisan ini ada niat baik yang ingin disampaikan dengan caranya. 

Ada satu kalimat yang sampai saat ini aku jadikan sebagai pegangan untuk terus bersyukur dan berbenah. Widih badas.. berat-berat. Hehe. simplenya begini “hidupmu ya hidupmu, hidup mereka bukan hidupmu!. Jangan pernah mau diatur orang lain, mengstandartkan diri atas patokan dari orang lain karena itu sangat berat. Serius.

I think as a human we have ever compare our self to other. Ya kan ? pasti pernah? Pasti dong  Sebagai makhluk sosial kesempatan berinteraksi dengan orang lain membuat kita sengaja ataupun tidak sengaja membanding-bandingkan hidup kita dengan mereka. Entah itu dari segi fisik, keuangan, karir ataupun hal kecil yang menurut oran tersebut gak penting tapi bagimu itu sangat bahkan perlu untuk di tiru, kok jatuhnya seperti FOMO  ya?. Iyap sedikit banyak mengarahnya ke sana. 

Baca juga: Memiliki Previlage dalam hidup 

Adalah hal wajar jika kita pernah membandingan hidup kita dengan orang lain. Kok wajar? Iya dong, bukan untuk menganggap bahwa hidup kita paling menderita atau serba minus sehingga gak patut diapresiasi. BIG NO!. Bukan itu ya tetapi dijadikan motivasi untuk mengkoreksi diri agar lebih baik lagi. Di bandingkan untuk dijadikan panutan. Tidak harus sama persis, setidaknya menjadi versi diri kita yang lebih baik lagi untuk kebaikan sendiri. Sampai sini paham kan ya pembaca budiman? Hehe. Guide line nya membandingkan untuk dijadikan motivasi bukan obsesi.

Membandingan diri hanya akan menambah beban mental

Beda cerita dengan orang yang selalu mengkomparasikan diri ke arah yang negatif. Harus seperti itu? Titik!. Pokoknya kalau gak seperti itu gak bahagia, gak afdol rasanya karena hidup orang tersebut adalah impian banyak orang. Siapa bilang? yakin impian banyak orang?, bagaimana kalau sebagian orang justru tidak ingin seperti itu. Mereka mengganggap bahwa hidupnya yang saat ini di jalani adalah sebuah proses, they just try enjoy their life no matter what

Lagi, bagaimana jika ternyata yang kamu upayakan ingin memiliki kehidupan seperti orang yang kamu anggap "sempurna" tidak sesuai dengan harapanmu. Iya kalau hidupmu seperti mereka, lah kalau enggak?. Menjadikan kehidupan orang lain menjadi tolak ukur hidup kita itu tidak masuk akal. Pertanyaan kedua, yakin bahagia?. Nah loh jadinya memicu stress kan, lagi-lagi kesehatan mental diabaikan. Membandingkan diri sendiri dengan orang lain malah membuat kita terlihat menunjukkan ketidak bersyukuran dengan apa yang di miliki. menjadi golongan orang yang tidak puas dengan pencapaian diri sendiri. Yang jelas membandingkan diri terlalu berlebihan akan menambah beban mental. 

Sejak membahas issue mental di beberapa postingan terakhir, aku akui semuanya based on pengalaman pribadi ataupun dari hasil diskusi dengan orang yang sedang berada di fase "rasanya hidupku biasa-biasa saja". 

Sangat tidak enak merasakan berada di posisi di mana kita meragukan diri sendiri karena aku pernah di posisi demikian. Rasanya ingin bangkit tapi sulit, ingin memulai perubahan tapi tak tahu cara memulainya. Benar-benar berada di posisi stuck!. Aku seperti berperang dengan pikiranku sendiri, tapi percayalah selama sebagian dari dalam diri kita memberikan dukungan untuk berubah dan tidak merasa rendah diri, kita harus pertahankan itu meskipun memerlukan waktu. Nah di sini aku ingin share versiku supaya tidak terlalu sibuk membandingkan diri dengan apa yang orang lain miliki, mungkin  beberapa dari kalian juga bisa mengamininya, 

Baca juga: Hadiah untuk Seorang blogger 

Self Love atau mencintai diri sendiri apa adanya

Aku percaya bahwa setiap manusia di muka bumi ini memiliki peran penting. Meskipun ada yang memiliki kekurangan, tentu dia juga memiliki kelebihan yang suatu saat akan membuat perubahan besar sepanjang hidupnya diarah yang lebh baik. Yes I belive it. Kelelebihan ini yang harus di gali dengan Self love dan bersyukur dengan berbagai keadaan. Self love di sini aku artikan dengan mencintai diri sendiri apa adanya.  Apa adanya tanpa tanda kutip ya. Haha. Yang artinya menerima segala apa yang kini dihadapi dengan berpikiran positif, menerima kekurangan diri sebagai bagian dari eksistensinya kita yang sekarang. Self love itu penting, untuk kita  terhindar dari stress yang di sebabkan oleh banyak tuntutan hidup. Proses self love juga macem-macem, seperti yang aku bilang di awal setiap orang punya timing masing-masing, jadi jangan jadikan beban karena masa-masa kecewa, marah, terluka itu juga harus kita rasakan untuk bisa memaknai hidup yang kita jalani saat ini, tapi ingat seperlunya jangan sampai terjerumus dan lama bertahan dalam masa-masa seperti itu. 

Thanks to your self everyday

Biasakan mengeluarkan kalimat positif pada diri sendiri setiap hari. Nah untuk aksi ini aku sering terapkan ke diriku, semisal ketika bangun tidur dan di depan cermin “kamu cantik, unik, awesome terima kasih sudah bertahan di dunia yang semakin gila ini”. Aku berusaha menghargai diriku dengan berkata demikian. Intinya afirmasi positif untuk diri sendiri. Jika dilakukan terus menerus menurutku akan menimbulkan self confident. Kepercayaan diri akan meningkat sehingga perasaaan membandingkan diri dengan orang lain akan terkikis, justru akan berubah menjadi rasa syukur dengan apa yang di miliki saat ini. ibaratnya Point of view yang berbeda dengan situasi yang sama. 

So, hidupmu adalah hidupmu yang jalannya sudah di tentukan, dan dapat kamu rubah sesuai usahamu. Sedangkan hidup mereka, apapun yang mereka lakukan itu hak mereka yang tak patut kamu jadikan standart bahagia. Kita tak pernah tahu mungkin mereka mati-matian berusaha untuk meraih posisinya saat ini dan tidak tersorot olehmu. Begitu pula dengan usaha kita untuk mencapai level tertentu seharusnya patut untuk di apresiasi sekecil apapun itu.  So, stop to compare your self dengan hidup orang lain. Bahagiakan hidupmu dengan caramu sendiri, tanpa memaksa dan meniru dan jangan korbankan dirimu untuk kepentingan orang lain.

Merasakan Menjadi Warga Solo Sementara

Assalammualaikum pembaca budiman, bagaimana kabar kalian, fine kan ya ?.

“Kota Solo, kota tempat kesenian asli,

tarian indah murni irama yang mengiringi”.

Pernah dengar lirik lagu keroncong Om Mus Mulyadi ini? Fix kalian generasi tahun 90-an. Hehe.

Siapa sih yang gak tahu dengan kota kecil nan cantik di salah satu wilayah Jawa Tengah ini. Kota kecil yang lekat dengan kesenian dan setuhan tradisionalnya. Kecil-kecil cabe rawit ini namanya – Solo.

Beruntung sekali aku berkesempatan tinggal di kota penuh budaya ini dan menjadi warga lokal walaupun untuk sesaat. Dinas suami lagi-lagi membawaku merasakan pengalaman baru yang seru entah itu wisata baru, kuliner baru ataupun penginapan baru. “Betah di sana?” pertanyaan paling depan, padahal ya di sananya gak permanen, Hehe. jujurly betah-betah aja, selagi tempat tersebut dekat mini market dan akses kemana-mana mudah, I’m fine bahkan akan sangat betah karena gak kesulitan sekedar untuk menemukan camilan.

Baca juga: Nongkrong Asyik di Tropical Coffee Surabaya

Bisa dikatakan tinggal di Solo dan di Mojokerto tempat aku berdomisili sekarang sama saja. Loh kok?. Iya ya, karena sama-sama di kota kecil, karena aku besar di kota Surabaya yang notabene itu termasuk kota terbesar kedua di Indonesia, so kota kecil di mana pun aku berpijak sekarang menurutku sama saja. Lagi nih, kalau ada celotehan yang bilang coba hidup di pedesaan nah itu beda cerita yaa.. karena yang di maksud udah spesifik pedesaan, sedangkan yang aku bahas kota kecilnya. Hehe. 

Ditambah ternyata untuk siang hari, Solo sama panasnya dengan di Mojokerto. Apakah kalian juga merasakannya pembaca budiman, sama-sama  cuaca siang yang terik cukup  menyengat kulit.

Kelas Ekonomi Sancaka berasa Eksekutif

Setelah menyelesaikan beberapa pekerjaan online dan tugas rumah tangga. Berangkatlah menuju kota Solo dengan kereta Sancaka premium. Anyway gerbong Premium ini ternyata gerbong ekonomi versi kereta Sancaka, tapi pelayanannya oke. Gerbongnya gak seperti gerbong kereta ekonomi dhoho yang biasanya aku naikki, serius!  Ya kali aja ada yang protes kenapa ngebandinginnya dengan kelas Ekonomi kereta murah.  Ya karena kereta murah yang pernah aku tumpangi ya sejenis Dhoho, KRD, Sritanjung, Logawa, dan Jayanegera. Dari ketiganya tempat duduknya sama, bikin punggung kenceng. Hehe.

gerbong kereta sancaka premium

Nah Sancaka ini berbeda, tampilannya lebih elegan. Tempat duduknya empuk dan bisa diatur mundur setidaknya 120 derajat. Terdapat beberapa Layar TV di satu gerbong. Nggak takut kepanasan juga karena sudah dilengkapi AC yang dinginnya menyebar di seluruh gerbong. Setelah duduk di kursi yang aku pesan tak lama kereta mulai jalan. Datanglah seorang pramugari kereta api untuk memberikan maske KN95 secara gratis. Kupikir jalan kereta ini pelan karena aku sama sekali tidak merasakan goncangan yang berarti Ketika duduk. Ternyata aku keliru, ketika masuk toilet di dalam gerbong, kereta ini terasa sekali guncangannya, bahkan untuk duduk aman di toilet aja badan ikut bergoyang. Haha kereta ini melaju begitu cepat, aku tertipu. 

Bisa dikatakan kereta Sancaka tergolong kereta jarak jauh untuk kalangan menengah ke atas. Tampilannya eksklusif serta harga tiketnya yang cukup lumayan. Perjalanan Mojokerto-Solo Balapan dengan gerbong ekonomi premium di harga 125rb. Harga tiket yang cukup lumayan dengan perjalanan 2,5 jam. Tapi mungkin alasan tersebut juga mendasari PT KAI memberikan pelayanan yang maksimal kepada para penumpang. Oke Worth it!. 

Ini merupakan perjalanan jarak jauh pertama kali sendirian setelah beberapa tahun terakhir vakum akibat virus Corona. Tanpa Mas bojo yang biasanya selalu duduk di samping. Bisa nih nanti upload story dengan based suara kereta. Hehe. 

Setibanya di Stasiun Solo Balapan, tujuan pertama adalah menghampiri penginapan Mas Bojo. Perjalanan cukup singkat dari stasiun ke hotel tempat Mas Bojo menginap. Hanya butuh waktu kurang dari 10 menit aku sudah tiba di hotel.

Hotel Mewah Tengah Kota Solo

Setibanya di Hotel Solia Yosodipuro Hotel Solo, tempat di mana Mas Bojo menginap. Tampilannya sangat apik. Hotel klasik yang comfortable. Hotel Solo yang menurutku aman nyaman dan harganya relatif murah ini sangat memperhatikan ciri khas jawa tengahnya. Karena terkenal dengan provinsi yang kental sekali dengan budaya jawa, di hotel ini banyak memiliki kesan heritage yang bisa di temukan baik dari pertama kali masuk hotel ataupun di kamar. 

Perihal rating, setelah aku cek, di Traveloka  score-nya gak kaleng-kaleng, hotel bintang 3 ini mendapatkan rating 8,5/10, sedangkan di Agoda 8.9/10. Banyak yang mengatakan jika hotel tersebut memiliki pelayanan yang sangat memuaskan. Ternyata benar dong. Hampir seminggu di sini tidak ada keluhan yang berarti. Kamar selalu bersih, sarapan buffet selalu menggugah selera, pendopo yang asik untuk di jadikan tempat nongkrong, kolam renang bersih. Pelayanan maskimal, Top deh.

solia yosodipuro solo

Lalu kemana aja selama di Solo?. Hari pertama aku hanya mengabiskan waktu di hotel untuk istirahat sembari menunggu kedatangan mas bojo dari dinasnya. Di hari kedua aku memilih jalan-jalan sekitar hotel. Dalam perjalanan menuju hotel, aku sempat menemukan tempat bersejarah di dunia jurnalistik yakni Museum Pers Nasional Surakarta, jadi aku memilih mengunjungi tempat tersebut. Alih-alih mengunjungi tempat yang jauh yang saat itu aku tak tau mana dan dimana, aku lebih memilih berwisata di tempat terdekat dari hotel. Jaraknya hanya 7 menit dengan jalan kaki. 

Museum pers nasional Surakarta

Kebetulan saat itu sedang diadakan pameran foto internasional "Padma Candrageni" dengan tema yang di usung seputar gunung Merapi dan candi Borobudur. Semua foto yang terpajang di sana menarik untuk di abadikan.  Sampai pada akhirnya alur pameran tersebut membawaku tiba aku di ruang perpustakaan museum, kurang lebih 2 jam aku habiskan di perpustaan tersebut sekadar untuk melihat koleksi buku yang terpajang dan bermain handphone. 

Pameran padma Surakarta

Pameran padma Surakarta

perpustakaan museum pers nasional surakarta

Pameran padma Surakarta

Lanjut, karena sudah siang dan waktunya makan, aku membeli makanan sekitar museum dan berencana untuk memakannya di kamar hotel. Mungkin setiap kota memiliki penyajian ataupun untuk penyebutan makanan berbeda-beda ya. Fun fact!,  aku mencoba membeli gado-gado di pinggir jalan. Nah yang menarik, bumbu gado-gado ini ternyata menggunakan bumbu pecel. Setauku, bumbu gado-gado itu memang dasarnya dari bumbu pecel dengan tambahan kentang dan santan kelapa, sehingga rasanya gurih. Nah yang aku dapatkan ini literally bumbu pecel, kalian pernah gak sih mengalami hal demikian pembaca budiman? atau memang setiap kota bumbu masakannya beda-beda ya? hehe, yuk share gado-gado di kota kalian bumbunya seperti apa.

Di dekat museum tepatnya di penghujung jalan Gajah Mada, terdapat taman kecil, taman Ngesus Punggawan namanya. Seperti taman kota yang di bangun untuk penghijauan jalan. Selama di sana aku sering menemukan, jika taman tersebut di gunakan oleh bapak-bapak becak untuk ngaso (istirahat) sambil menunggu customer. 

Lanjut untuk kuliner di malam harinya, aku dan mas mojo memilih untuk mencoba mencari disekitar hotel saja karena memang malas untuk bepergian jauh. Banyak berjejer warung pinggir jalan yang mulai di buka di sore hari. Ada satu warung makan yang selalu rame sejak aku datang di Solo, namanya soto daging sapi Bu Hadi 2, aku dan mas bojo berencana mencobanya. Ternyata sejenis makanan dengan wadah mangkok ayam jago yang berisi soto bening dengan sayur kecambah sebagai topingnya, untuk lauknya bisa diganti namun harganya juga bervariasi. Enak sih, tapi menurutku porsinya kurang. Maklum doyan makan nih. 


soto daging sapi bu hadi 2

Anyway untuk harga makananya di sini ternyata hampir sama dengan di Mojokerto ataupun Surabaya ya, pricy menurutku. Hehe. UMR kota solo termasuk kecil, tapi kenapa biaya hidupnya mayan tinggi ya. Ini berdasarkan survey di setiap malam aku mencari makan di luar hotel. Harganya 11-12 dengan tempat makan yang aku datangi di kota besar. Mungkin karena kenaikkan BBM kali ya, jadi berpengaruh di seluruh aspek kehidupan di sini. Atau emang aku yang keliru berkunjung ke warung makannya. Entahlah yang jelas, mayan juga sih harga-harga makanan di sana.

Selain dengan niat yang kuat menyusul Mas Bojo di Solo, aku juga berencana untuk jalan-jalan di Jogjakarta dengan adikku. Nah fungsi adek di sini, sebagai partner jalan-jalan kalau mau kemana pun, hitung-hitung sebagai pengganti Mas Bojo karena doi sibuk mencari nafkah. Hehe. So, terplotlah jadwal untuk adek datang menyusul di hari ketiga saat aku di Solo. 

Aku dan adikku memiliki planning trip ke Jogjakarta tanpa inap. Setidaknya Jogja-Solo bisa di tempuh dalam waktu 1 jam dengan menggunakan KRL, lumayan juga menghemat biaya yang seharusnya dari Mojokerto ke Jogjakarta, sekarang jadi Solo – Jogjakarta. Hehe. Nah pengalaman pertama menggunakan KRL Solo-Jogja ini sungguh membingungan. Aku harus naik turun tangga, belum lagi harus top up E-Money, dan apabila menggunakan aplikasi, 1 aplikasi hanya bisa digunakan untuk 1 orang penumpang. Boom! aku dan adikku panik. Tapi untuk cerita jalan-jalan ke Jogja dengan menggunakan KRL ini akan aku ceritakan di judul lainnya. Hehe

Kuliner di Kota Solo

Hari ketiga berada di Solo karena adiku sudah tiba, aku berancana melakukan wisata kuliner. Rekomen Mas Bojo aku wajib mencicipi makanan khas Solo-Selat Solo. Rencana awalnya, kami ingin makan di Viens yang menurut Gmaps tempatnya itu tak jauh dari Hotel membutuhkan waktu 15 menit dengan jalan kaki. Namun karena satu dan lain hal ternyata kami kesasar hingga berjalan 30 menit. Sebenarnya bukan benar-benar kesasar tapi lebih ke salah resto Viens aja. Haha.  Harusnya yang kami datangi menuju Viens Pusat, tapi Gmaps yang aku klik justru ke Viens Lotte Grosir. Dodol banget kan. Haha. Karena aku dan adikku berekspetasi lebih enak di pusat. Alhasil kami memutuskan tidak masuk ke Viens Lotte Grosir dan lebih memilih order transportasi umum dari Viens Lotte Grosir ke Viens Pusat padahal posisinya kami sudah jalan 30 menit dan berada di depan Viens yang ada di lotte grosir. Sumpah ini beneran kegiatan nganggur hari itu. Haha

selat solo - makanan khas solo

Setelah memesan transportasi online, tibalah kami di Viens Pusat. Ngomong -ngomong selat Solo ini semacam makanan berkuah yang berisi sayur wortel, buncis rebus dan selada, ada pula potongan kentang goreng dengan toping daging dan telur ayam yang di bacem lalu di guyur dengan saus dan mustard. Nah sausnya ini mantap!. Seperti makanan yang rasanya pernah aku coba tapi entah itu apa, rasanya familiar. Hehe. Aku pastikan perlu mencobanya lagi jika aku ke Solo.

Lanjut, hari terakhir menginap. Nah dari sekian banyak hari, baru di hari terakhir aku bisa dengan lega jalan dengan Mas Bojo yang gak membahas masalah kerjaanya. Aku memutuskan untuk jalan-jalan ke Pura Mangkunegara di pagi hari sekitar pukurl 05.30. Lokasi ini jaraknya lumayan dekat dari hotel kurang lebih 400 Meter. Kebetulan di sana sedang ada event sepeda berlangsung. Digadang-gadang sebagai acara terbesar di Solo. Untuk acara pelepasan peserta dilakukan oleh Gibran Rakabumi selaku walikota Solo. 

Selepas dari tempat tersebut, karena kami berencana early check out karena ingin mengunjungi pasar Klewer, pasar tradisional yang menjadi andalan warga Solo.  Berada di depan pintu masuk pasar Klewer, aku juga sempat mengunjungi masjid Agung Surakarta. Saat itu juga Solo sedang mengadakan acara tahunan yang disebut Sekaten Solo. Acara ini berlangsung selama 1 bulan sayangnya hanya ramai ketika malam hari. Nah kebetulan saat itu aku harus bergegas ke tempat oleh-oleh lalu kembali ke stasiun.

So, itulah pengalamanku selama beberapa hari di kota Solo. Mungkin gak banyak explore tempat karena memang terbatas waktu dan memang planing untuk jalan-jalan aku fokuskan ke Jogjakarta. Tapi tak masalah, setidaknya aku paham bagaimana kehidupan di kota kecil yang penuh budaya ini.